Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Galeri Kecil Bersama #1 : Tentang Petani

Foto Pribadi, Sawah di Gunung Kidul Ide awalnya adalah keinginan berkarya bersama. Dibuat dari tempat yang berbeda-beda dalam merespon ide atau tema awal yang disepakati. Sebagai awalan, cerita sederhana tentang petani menjadi babak pembuka. Singkatnya, Mas Yudi malam itu (22/3) mengabarkan via chat. Ia baru saja bertemu beberapa petani muda dari Magelang yang memiliki energi dan semangat yang menarik. Ia seketika membuat rekaman sederhana petikan gitar yang berdurasi sekitar Dua menit dan dikirim ke saya. Ia menginginkan agar saya membuat puisi dan membacakannya untuk mengisi nada yang telah dibuatnya tersebut. Malam itu juga saya membuat  semacam puisinya. Saya tulis dan saya rekam menggunakan Hp untuk nanti digabungkan dengan aplikasi Wavepad Audio. Judul 'menuju merdeka' saya pilih untuk memaknai cerita singkat dan nada petikan gitar yang telah dikirim. Tanpa maksud berlebihan, gagasan puisinya ditujukan untuk menceritakan ulang cerita itu. Dan barangkali juga, cer...

PLEDOI JARAK

Kiriman WA mu, 2018 Bulan murung di atas stasiun. Redup. Murung. Seperti kurang cahaya. 1000 kilo meter kita berada pada ruang yang dipenuhi doa masing-masing. Mula-mula perbedaan batas ruang menderu gelisah. Semacam kekhawatiran yang kanak-kanak barangkali. Aku dengan keterasingan yang riuh. Bangunan-bangunan di kota malam ini tak bisa jadi penghiburan. Apapun dan dimanapun kau berada, aku harus yakin Tuhan senantiasa menjaga. Disini. Bulan terlihat semakin kehilangan warna. Letih beradu pada waktu semu. Hari-hari berjalan penuh kemacetan tanpa ramai lalu lalang kendaraan. Aku harus menegaskan pada suara-suara di kepalaku: ini hanya sementara. Terdengar lagu dari penjual kaset --yang sebentar lagi mungkin akan diganti. "Selamat malam duhai kekasihku, sebutlah namaku menjelang tidurmu" Adam dan Hawa lah batinku yang memulai semua ini. Sejarah jarak dalam kehidupan manusia. Saling menjaga keyakinan untuk bertemu lagi. Melawan kalah. Sebab hidup menugaskan mereka...

PERCAKAPAN KELUARGA

Foto pribadi. Bercengkrama, 2017 1. Istri saya terus mendukung saya, mas Itu yang membuat saya Terus bertahan Sampai hari ini 2. Malam lewat seperti biasa Di kota ini Kopi telah sekian kali diteguk Tembakau dilinting Rokok bungkusan sudah hampir habis Mengisi sela antara percakapan dan nafas sejenak Diantara orang-orang yang berbicara 3. Anaknya dua, laki-laki semua Yang perempuan meninggal sesaat setelah dilahirkan Anaknya yang laki-laki ketiga lahir sehari sebelum bapaknya berangkat mogok kerja Istrinya tidak mengenal undang-undang buruh dan teori demonstrasi Mungkin belum, Tapi kesabaran dan keyakinannya melampaui anggapan orang pada umumnya 4. Saya boleh dibilang yang paling tua di tempat kerja Lelaki disamping bapak tadi ikut bersuara Tapi saya tidak bisa diam melihat ketidakadilan ini Istrinya disamping pintu tersenyum Barangkali keyakinan lebih diperlukan daripada pertanyaan-pertanyaan yang membuat suaminya tidak bisa tidur Bermalam-malam 5. ...

PAGI YANG BERHEMBUS KE TIMUR

Dokumen pribadi. Sembunyi tangan, 2017 Buat Daus Tak ada pagi Yang lebih tenang Selain menuju ke kotamu Semuanya kembali kanak-kanak Ingataanku pada ibu : kembali Lelaki itu Berbaju duka Disiapkannya sejak shubuh Untuk membunuh kesepiannya sendiri Ke timur tepatnya Rindunya siap dimutilasi Perempuannya barangkali pun Menunggu Bersama pisau sunyi Yang diasah sekian lama Pembunuhan yang baik, katanya Harus benar-benar direncanakan Keduanya saling menyiapkan Cara terbaik Untuk membunuh Biar sisa darah Terbawa sampai jauh Ke mimpi Lelaki dan perempuan itu Percaya, Membunuh menjadi tak baik, Jika dilakukan setengah-setengah Perlahan tubuh-tubuh dibasahi cuaca Doa-doa diniatkan Roda-roda Langkah-langkah Yakin Mata angin Sudah mempertemukan Mereka Dan sejauh yang saya ingat, Di pagi yang berhembus ke timur itu, Kematian dirayakan dengan suka cita Jogja, Juni 2017 Nb : Titip ucapan selamat ulang tahun juga pada ...

BERTEMU RUMI DI SELATAN

Coretan saya : R, 2017 Serupa musim Tokoh-tokoh lahir dan hilang Ibu dan pembunuhnya: ingatan Kita melawat ke arah yang selalu kembali Dan kaki. Menapak jejak : tak beranjak Kita bertamu pada cermin Segala tempat : hilang Berganti menjadi suasana Dan rumi Kujumpai di ruang mati Tanpa sapa Hanya saja kisahnya : ditanggalkan pencerita Cinta, keabadian, dan kalimat semacam itu Ditulis dalam kitab Buta Jika dibaca. Begitu saja Ke selatan Murid at-tabriz ditafsirkan Untuk pulang Berhati-hati Di jalan hilang Sebab rumah Sedari tadi Menunggu kita : kembali Kaliopak, Akhir Mei. 2017

PAGI YANG GUGUR PADA MATA YANG TERBUKA

Foto pribadi. Bukan bulan diatas kuburan, Juni 2017 Adalah dendam. Yang terus menerus mencari padam. Dan seperti harapan kosong : perahu kertasku karam di laut lepas yang jauh dari lelap daratan. Kusaksikan kapal-kapal itu. Sekoci yang khusyuk terbawa pejam. Semuanya berlayar dalam hening panjang. Ke mimpi yang entah. Sementara aku tertinggal di dermaga. Perahuku penuh lubang. Tukang kayu di kampung ini sungguh tak beralamat pasti. Enampuluh tujuh bintang sudah kuhitung dan belum ada yang datang. Kulihat rumahmu dari sini. Kau tertidur dengan sisa pelukanku tadi. Aku belum bisa kesana. Pagar yang akan kulompati sungguh teramat tinggi. Dan tentu saja: beresiko. Kuputuskan bercakap pada kucing hitam diantara tumpukan kayu dan menyapa orang-orang yang lewat menjaga pagi. Apakah aku sungguh masih bisa kembali ke kota itu. Atau paling tidak beranjak ke kota lain. Aku sungguh merindukan suasana hilang dan bertemu dengan diri sendiri. Aku benar-benar menginginkan arloji ya...

SELAMAT HARI BANGKIT, PETANI

/1/ Suatu malam sebelum kelahiran kita hanyalah doa: bersujud pada tanah. Menengadah pada cuaca. Segalanya pun lalu tumbuh: kita menulis di bebatuan dan desau angin: tertanggal dalam ruang. bertempat dalam waktu: sejarah mulai bergerak melaju. /2/ Petani namaku. Punggungku buku catatan kerja. Cangkulku pusaka sejati. Rumahku tabungan panen raya. Keluargaku sumber kebahagiaan abadi. Selalu kubaca doa itu: Wahai matahari tempatku berharap. Wahai alam raya tempatku menetap. Tak ada tanah yang akan kau pisahkan dari airmu. Tak ada hamba yang akan kau pisahkan dari keseimbangan takdirmu. Peganganku doa. Kerjaku berusaha. Maka di bumi keadilan ini selalu kujunjung kepastian: segala yang benar maka berarti benar. Dan segala yang salah maka berarti salah. Setengah benar berarti tidak benar. Setengah salah maka berarti salah. Semoga hamba selalu dijauhkan dari sikap setengah-setengah. /3/ Kami lahir dari bangsa batu yang mulai lelah berburu dan membunuh satu sama lain. kami kemudian mena...

Menebak Sakitmu Diantara Deretan Proposal dan Naskah yang Belum Jadi

Buat Dik Betapa tidak enak mengunyah makanan favorit kita saat kau sakit. Begitu juga tawa lepas pagi kanak-kanakmu yang lebih membahagiakan dari mendapat arisan belum juga kudengarkan. Seperti basi salam pembuka sembutan aku pun mengatakannya: cepat sembuh, cepat sehat, dan segala kecepatan lain. Mesti belum sepenuhnya tepat. Belum. Dan diantara rentetan tenggat tercatat aku masih saja menebak sakitmu yang entah untuk apa. Bukan. Aku bukan dokter yang lantas menganjurkanmu tiga kali sehari menelan kepahitan palsu. Aku. Seperti halnya kanak-kanak ingin bahagia menuruti keinginannya. Meski tak jarang lalu lebih mencelakai. Kamu lebih berbahaya dari menerobos lampu merah. Aku waspada. Sambil siaga. Sesekali bisa muncul ancaman yang membuatku akan semakin lebih sangat mencintaimu lagi. Kamu pohon kaktus kesayangan. Betapa aku tak akan membiarkannya kekeringan. Jangan sakit. tentu itu ucapan bodoh dan egois. Seperti tukang pos kehilangan alamat surat di muka amplop. Aku mencari sakit...

Tiga Komposisi

Buat Dik /1/. Lagrima Pun denting Bercakap tentang kita Yang saling bersandar Dalam kata Tentang jalan berkelok Sebelum kedai kopi itu Tempat dimana ingatan Lupa jalan pulang Lalu tak mau pergi /2/. Romance De Amor Sementara perang batin Pecah Karena kita khawatir Saling tak bisa merawat luka masing-masing Padahal aku butuh bersandar lelah Di rumahmu Tempat dari segala pembatas buku Di setiap yang kubaca Barangkali juga kamu Butuh pemantik api Tuk membakar lilin-lilin Yang kau kumpulkan setiap haru lahirmu tiba Dan kita berdebat Tentang manakah yang akan lebih dulu dilupakan anak-anak Antara capung di rerumputan Atau kunang-kunang di malamnya kegelapan Oh, Sayang Padahal bukankah semua baik-baik saja Di cinta kita Yang sederhana /3/. Canon in D Sementara cinta itu Sendiri kita ikat kuat Agar tak mudah patah kita genggam erat Agar tak gampang jatuh Sampai mawar lupa cara berbunga Sampai lalu tak tumbuh lagi Jogja. April-Mei, 2016 ...

BALADA SEHELAI DAUN

Entah mengapa. Setiap dongeng selalu diawali kata-kata pada suatu hari atau pada suatu ketika. Hmm… Bagaimana jika saat peristiwa itu terjadi. Belum ada hari, belum ada waktu, bahkan belum ada nama-nama. Seperti kisahku. Baiklah. Awalnya aku sengaja menyebut ini sebagai dongeng. Sebab jika ini kusebut cerita nyata, aku pasti dianggap pendusta. Dan jika ini kusebut fakta-fakta, aku pasti dituntut untuk menyebutkan rumus dan angka-angka. Maka ini kusebut saja sebagai dongeng. Jika orang dewasa tak bisa menerimanya. Biarlah, nanti anak-anak menikmatinya. Meskipun toh nanti diabaikan juga oleh anak-anak itu saat mereka tumbuh remaja. Inilah dongeng yang diawali pada suatu yang entah. Sebab memang benar belum ada hari dan waktu. Serius. Peristiwa ini bahkan telah terjadi sebelum 6 hari Tuhan menciptakan alam semesta seisinya. Singkatnya. Aku tumbuh di pohon itu. Pohon yang begitu dipuja dan ditakuti oleh semua penduduk surga. Sebab di pohon itu tumbuh buah yang menjadi rahasia pencip...

PROSA JALANAN : JOGJA - JEMBER

Buat kamu, Dik 1. SESAMPAINYA DI SOLO. Pagi masih belum sungguh, Dik. Kau sedang apa. Shalat subuh atau masih tidur menggenggam bukumu yang sudah lusuh, Ya, itu buku yang tak pernah kau baca. Tapi kau selalu membawanya kemana-mana. Barangkali buku yang nampak biasa itu begitu membuatmu bisa berbahagia. Terminal masih sepi, Dik. Aku memandangi setiap yang terlihat dari dalam kaca. Barangkali kudapati kekasih yang sedang sendiri dan menunggu, hampir sama dengan kita, ya, kita yang bersama dan kita yang saling menunggu. Tapi bukankah semuanya saling menunggu. Menunggu untuk berpisah dan bersandar lelah. Atau kamu mungkin sedang terjaga, Dik. Lalu Tak kamu sentuh sama sekali handphone atau smartphone pemalas itu. Dan kamu melangkah keluar rumah. Sekadar menghirup haru embun yang basah dan sisa hujan diatas tanah. Wajahmu memerah. Kamu begitu bersuka cita. Dan semua itu kurasakan di lengang jalanan kota surakarta. Jangan lupa berhati-hati atas apa saja yang membuatmu bahagia. Sol...