Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Peter dari Sarajevo

Design by Canva Oleh: Mh Maulana Ia memiliki nama yang jarang dijumpai di antara anak-anak seumuran kami. Saya bertemu dengannya pertama kali di masa sekolah menengah. Saya cukup terkesan dengan sosoknya yang berjalan sebelum kami saling berhadapan. Bentuk wajah dan rambut ikal yang cocok, tangannya yang memegangi rokok dengan terampil, serta celana pendek dan kaosnya yang kusam tapi nampak pantas dikenakan. “Peter,” ucapnya sambil kami saling menjabat tangan. Saya lupa kota ia berasal. Namanya cukup sulit. Untuk memudahkannya, saya biasa mengingatnya dengan sebutan Peter dari Sarajevo. Kalau tidak salah nama kotanya mirip dengan itu. Toh kami juga jarang terlibat pembicaraan yang membahas nama rumit wilayah tempat kami dilahirkan masing-masing. Peter awalnya cukup membuat saya terkesan karena dia bisa memainkan alat musik yang aneh-aneh. Pernah sekali waktu Ia membawa instrumen tiup dari kulit kerang, lalu tetabuhan India yang mirip kendi bolong, serta seruling Cina yang lebih cocok u...

Melihat Hujan

Seorang gadis kesepian, dengan buku yang sudah bosan dibacanya, melihat hujan dari pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Gadis itu duduk di sofa usang yang masih nyaman digunakannya untuk merebahkan diri dan bermalas-malasan. Posisi sofanya memungkinkan seluruh tubuh untuk merasai lembut kapas-kapas di balik lapisan kainnya.  "Seandainya saja aku jadi hujan, tak perlu mendapat omelan ibu, bisa jatuh dengan bebas, ramai, dan penuh kegembiraan." Baru saja gadis itu membatin, suara dari dapur yang cukup keras, menyadarkannya.  "Sri, ayo bantu ibu masak, jangan malas-malasan, masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai ini." "Iya, Buu." Gadis itu membatin sembari menekankan kata pekerjaan rumah --yang kembali mengingatkannya betapa masih menumpuk soal-soal matematika dan bahasa inggris yang diberikan gurunya sebagai pekerjaan rumah.  Sementara di luar rumah, hujan yang sedang turun dengan cukup derasnya, berbicara juga.  Hujan yang setetes, deng...

Merindukan Hutan

Tak ada lagi yang lebih kurindukan daripada itu. Merasai hawa dingin yang memeluk. Aroma pohon-pohon basah. Serta wangi tanahnya yang tak pernah berubah.  Hutan, dalam pengertian yang telah kubatasi, ia selalu berarti terdiri setidaknya pinus-pinus yang rimbun. Jalan setapak, daun-daun gugur yang membentuk polanya sendiri di bawah, dan tentu saja, suara kumbang yang berisik dengan selingan kicau burung di antara rapat nadanya.  Hutan, berada di gunung dan, lereng atau perbukitan yang menawan. Hutan menunjukkan misterinya dalam benak yang mampu terbayangkan. Seperti peri-peri, kehidupan yang lain, atau sejenisnya. Hutan begitu hidup dalam ingatan dan kenyataannya, yang akan kudatangi, entah kapan.  Saat itu, usiaku masih duapuluhan awal. Hutan sudah seperti tempat wajib yang pasti terlewati dalam pendakian. Aku tidak suka hutan dengan pepohonan yang terlalu rapat dan gelap. Aku selalu menyukai jika setidaknya masih ada celah, masih ada sedikit hamparan, untuk m...

BALADA SEHELAI DAUN

Entah mengapa. Setiap dongeng selalu diawali kata-kata pada suatu hari atau pada suatu ketika. Hmm… Bagaimana jika saat peristiwa itu terjadi. Belum ada hari, belum ada waktu, bahkan belum ada nama-nama. Seperti kisahku. Baiklah. Awalnya aku sengaja menyebut ini sebagai dongeng. Sebab jika ini kusebut cerita nyata, aku pasti dianggap pendusta. Dan jika ini kusebut fakta-fakta, aku pasti dituntut untuk menyebutkan rumus dan angka-angka. Maka ini kusebut saja sebagai dongeng. Jika orang dewasa tak bisa menerimanya. Biarlah, nanti anak-anak menikmatinya. Meskipun toh nanti diabaikan juga oleh anak-anak itu saat mereka tumbuh remaja. Inilah dongeng yang diawali pada suatu yang entah. Sebab memang benar belum ada hari dan waktu. Serius. Peristiwa ini bahkan telah terjadi sebelum 6 hari Tuhan menciptakan alam semesta seisinya. Singkatnya. Aku tumbuh di pohon itu. Pohon yang begitu dipuja dan ditakuti oleh semua penduduk surga. Sebab di pohon itu tumbuh buah yang menjadi rahasia pencip...

JAWABAN SUKAB*

(Ini 'semacam cerpen suka-suka' yang saya buat atas beberapa cerpen mahaguru Seno Gumira Ajidarma yang membuat saya gregetan. Terutama Cerpen Sepotong senja untuk pacarku, epilog: surat, dan Jawaban Alina. Monggo, buat yang selo. Sila membaca ketiga cerpen tersebut di duniasukab.com sebelum membaca 'semacam' cerpen saya. Atau mau langsung dibaca, bahkan tidak dibaca pun sungguh sangat tidak apa-apa. Hayuk. Tetap SemangART berkarya) JAWABAN SUKAB* Oleh: MH Maulana Dan aku membaca suratmu, Alina. Tepat saat kusaksikan tubuhmu lunglai dengan mata nanar memandang senja sambil memegang Indomie terakhir di dunia. Kau pun tahu. Di dunia yang dibatasi oleh nama-nama ini pernah tinggal orang suci. Kau mungkin pernah mendengar ceritanya saat masih sekolah dasar. Atau sebelum kau terjun di pekerjaanmu yang penuh perhitungan --kau yang suka membaca itu-- pernah membeli buku kisah 25 nabi di pasar loakan. Dalam halaman yang entah, diceritakanlah Nabi Yunus(1). Dia diselama...

SEMACAM CERPEN KORUPSI

Katakanlah, suatu hari di suatu negeri yang tidak bernama "negeri asalnya" lagi. Korupsi benar-benar tidak ada. Orang-orang mulai berbondong-bondong bangun pagi. Merasa semuanya telah menjadi makmur dan sejahtera. "Tapi ternyata kok belum", kata seorang bapak yang namanya menggunakan kode sekian-sekian-sekian "Iya, masih ada segelintir orang yang berkuasa" kata seorang bapak berkode yang lain "Kita harus demo?" "Hah, ngapain?" Di Negari itu. Katakanlah nama negaranya rada ketimuran "Done se Yain". Korupsi hanya jadi dongeng masa lalu di sekolah kanak-kanak yang tak lagi menggunakan guru-guru di kelas. Biasanya hanya disetelkan pencahayaan 4 Dimensi. Dan guru-guru hanya tinggal melakukan rekaman dari rumah masing-masing. Ya, di rumah mereka yang atap dan lantainya sudah dipenuhi dengan kaca dan alat-alat yang sudah bisa aktif jika hanya disentuh dengan ujung-ujung jari. "Padahal Korupsi sudah tidak ...