Skip to main content

Posts

Showing posts with the label opini

One Ok Rock dan XXXV yang Paripurna

  www.gwigwi.com Musik, dari ruang yang entah itu, mengisi jiwa sampai penuh, dan entah juga, terus begitu. Terus sanggup diisinya lagi. Dan lagi. Saya pertama menyaksikannya saat Rika dan Krismon melagukannya bersama. Judulnya "Wherever you are". Saya ingat pernah mendengar sebelum itu, entah di mana, seperti lagu-lagu yang lain: kita baru mengerti setelah beberapa waktu kemudian. Mereka melagukannya dengan sederhana dan indah: di kursi kayu warung kopi yang telah dini hari dengan gelas-gelas yang kosong, lengkap dengan lirik jepangnya yang dibagi dengan suara satu-dua yang merdu didengar. Besoknya, saya mencari lagu itu di spotify. Tidak hanya pada satu lagu itu, yang lainnya juga. One Ok Rock menempatkan sound lagu-lagunya dengan clean dan easy listening . Setahu saya, jenis musik semacam ini bisa membawa lagunya menjadi cukup membosankan, tapi band asal Jepang ini tidak berhenti di situ, ia membawa yang banyak musisi inginkan: karakter. Tak butuh waktu lama, saya be...

DARI HARI KE HARI*

Foto pribadi. Di sekitar stasiun, 2017 Saya ke Banyuwangi, untuk kedua kalinya. Kota ini jauh sekali. Sedikit lagi sudah sampai bali. Hujan juga sering turun. Namun wangi tanahnya sama saja dengan kota-kota lainnya. Saya berangkat bersamaan dengan banjir dan longsor yang terjadi di pacitan dan jogja. Saya sedih tentu saja. Beberapa kawan di jogja saya hubungi untuk menanyakan kabar dan kemungkinan merespon. Sebagaimana bencana yang sering terjadi, semangat kemanusiaan menjadi sangat tinggi. Banyak sekali organisasi, komunitas, dan lembaga kemanusiaan yang mendedikasikan segala usaha demi meringankan dampak dari akibat pergerakan alam yang membabi-buta. Bencana kemudian membuat orang bersatu. Tidak terpecah belah seperti pilpres dan pilkada. Tidak ada orang yang berpendapat "Ini banjir Jokowi" dan itu "longsor prabowo", sehingga tidak kita jumpai tidak ada orang yang enggan mengulurkan tangan. Mungkin hanya celetukan "Ini kan momen mereka untuk cari ...

MENULIS

Foto pribadi. Bukuku, 2017 Baginya adalah jalan suci. Ia sangat meyakini itu. Sampai ia menyadari satu hal. Tulisannya tak kunjung jadi, padahal segala niat dan puja untuk Tuhan sudah dilakukannya. Ia  pun akhirnya menyerah. Ia harus menemui seseorang. Orang yang mungkin bisa membantu masalahnya. Hari itu kota sudah cukup gelap. Ia melangkahkan kaki memasuki pekarangan sebuah rumah. Seseorang yang ingin ditemuinya sedang duduk di beranda. Tersenyum. "Mengapa menulis rasanya susah sekali ya, Kyai?" "Mungkin anda harus menipu setan?" "Maksudnya?" "Jadi kalau saya nulis itu dari awal saya tidak niatkan tulisan saya untuk Allah, untuk agama, untuk kebaikan, dan lain-lain. Justru saya malah niatkan tulisan itu untuk sombong, untuk bisa kaya, dan terkenal. Kalau saya dari awal meniatkannya untuk ibadah, setan akan bersemangat sekali menggoda agar tulisannya tidak jadi-jadi. Lha kalau saya meniatkan dari awal untuk urusan dunia, setan juga aka...

MENULIS DAN MEMBACA SEBAGAI USAHA YANG SIA-SIA

Coretan saya. Sia-saya, Juni 2017 Pemuda itu bernama Sifisus. Dia masih saja mendorong batu raksasa ke puncak gunung. Begitu batu menggelinding ke bawah, sifisus mendorong dengan susah payah batu tersebut menuju ke puncak gunung lagi. Lalu menggelinding ke bawah lagi. Sifisus turun. Mendorong lagi ke puncak. Menggelinding ke bawah. Mendorong lagi ke puncak. Turun. Naik lagi. Terus diulang. Tak pernah berhenti. Kemudian Ekalawya. Pemanah terbaik yang berasal dari kasta sudra itu terus berlatih tak kenal waktu. Kecintaan pada guru Durna membuatnya membaktikan seluruh kemampuannya untuk terus berlatih agar bisa diangkat murid oleh sang guru. Namun Durna telah terikat tugas untuk membuat pemanah terbaiknya adalah Arjuna. Sang guru menolak Ekalawya. Ekalawya tak menyerah. Dia bahkan membuat patung guru Durna untuk membuatnya merasa seakan-akan guru Durna mengawasi dan melatihnya. Sampai kemampuan memanahnya diketahui Durna bahwa itu adalah kemampuan yang bisa melampaui Arjuna. Dur...

DISEBABKAN OLEH SENO GUMIRA AJIDARMA

  Barangkali tidak berlebihan kalau saya menyebutnya penulis yang paling dibutuhkan zaman kita. Dia menulis apa saja. Mulai dari fiksi dan non fiksi. Mulai dari sastra sampai politik. Dan tulisannya seperti kopi yang enak ; harus dihabiskan hingga tandas. Dan Seno Gumira boleh dibilang sebagai acuan referensi bagi siapa saja yang ingin menulis, terlebih  cerpen dan esai –tanpa bermaksud mengabaikan penulis lain. Tulisannya mengerti benar apa yang dibutuhkan pembaca. Semacam oase dan kepuasan tersendiri bagi siapapun yang membaca tulisannya. Seno gumira pernah berkata sendiri dalam buku ‘ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara’, “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” Sampai suatu waktu jika ada kawan yang menanyakan bagaimana cara meningkatkan minat membaca ...
MASIH LUMAYAN ONANI INTELEKTUAL Oleh MH Maulana Yang paling saya takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu” (Umar bin khatab) Sungguh menarik apa yang disampaikan Zulkifar Akbar di kompasiana tentang onani intelektual. Dimana onani intelektual diartikan kondisi kaum terpelajar atau kaum intelek yang menguasai ilmu tertentu tidak diamalkan secara meluas, tetapi hanya dinikmati untuk dirinya sendiri. Sepertinya memang sesuai dengan kabar dunia keilmuan kita hari ini, terutama juga banyak terjadi ditengah modernisasi pendidikan negeri ini, yang bisa dengan mudah kita saksikan, terlebih mendominasi. Kondisi onani intelektual akhirnya terlihat rawan dan juga miris di dunia keilmuan, terlebih mahasiswa. Pasalnya mahasiswa yang (sering) sibuk berdiskusi perihal berbagai macam persoalan ternyata kaget melihat dunia luar kampus atau lapangan kerja nyata. Lain pihak, beberapa dosen dengan kemegahan ilmu dan gelar yang disandangnya tidak bisa melihat lingkungan sekit...
PEMILU DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL Oleh MH Maulana             Pemilu, beberapa orang mengartikan musim dimana bangsa Indonesia segera menyambut perubahan. Selalu identik dengan sesuatu yang diharapkan menjadi kebangkitan dari keterpurukan yang lampau. Berbagai partai politik pun mengusahakan untuk terjadinya hal yang demikian, entah dengan kepentingan yang berbagai macam didalamnya.             Negara kesejahteraan (welfare state) adalah impian setiap warga negara. Mungkin ini juga yang diinginkan filsuf yunani plato dalam negara utopisnya. Juga Apa yang diusung oleh kaum Renaisans dalam kebangkitan zaman baru. Dimana negara menjamin kesejahteraan dari setiap masyarakat tanpa memandang perbedaan ras, suku, agama, dan sebagainya. Juga pemimpin negara yang bisa mengayomi dan memberikan kebijaksanaan terhadap apa yang menjadi kebutuhan warga negara tersebut. ...
KEBERAGAMAAN KITA DALAM UJUNG TANDA TANYA* Oleh MH Maulana Moralitas dan agama hanya penting sepanjang membantu politik atau kepentingan diatas kepentingan manusia (goenawan muhammad)             Agama menjadi acuan refleksi dan jalan kembali di abad 21 ini ditengah kebuntuan pemikiran atau intelektual yang tak bisa memecahkan problema yang kerap menemui jalan buntu. Namun ditengah itu semua, agama menjadi sesuatu yang dikambinghitamkan pada  banyak sektor, baik itu sektor sosial sampai perpolitikan internasional. Simbolisme atas nama agama pun  membanjiri kemanusiaan kita, dimana kita terdidik untuk menuhankan eksternalisme dari manusia, kita lebih mementingkan bentuk daripada isi yang mestinya kita dituntut seimbang, dan kita juga larut dalam anggapan mayoritas yang belum tentu benar adanya. Dalam kajian ilmu tasawuf dipaparkan bahwa syariat tanpa hakikat adalah buta dan hakikat tanpa syariat adalah pincang, ...