Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Resensi

One Ok Rock dan XXXV yang Paripurna

  www.gwigwi.com Musik, dari ruang yang entah itu, mengisi jiwa sampai penuh, dan entah juga, terus begitu. Terus sanggup diisinya lagi. Dan lagi. Saya pertama menyaksikannya saat Rika dan Krismon melagukannya bersama. Judulnya "Wherever you are". Saya ingat pernah mendengar sebelum itu, entah di mana, seperti lagu-lagu yang lain: kita baru mengerti setelah beberapa waktu kemudian. Mereka melagukannya dengan sederhana dan indah: di kursi kayu warung kopi yang telah dini hari dengan gelas-gelas yang kosong, lengkap dengan lirik jepangnya yang dibagi dengan suara satu-dua yang merdu didengar. Besoknya, saya mencari lagu itu di spotify. Tidak hanya pada satu lagu itu, yang lainnya juga. One Ok Rock menempatkan sound lagu-lagunya dengan clean dan easy listening . Setahu saya, jenis musik semacam ini bisa membawa lagunya menjadi cukup membosankan, tapi band asal Jepang ini tidak berhenti di situ, ia membawa yang banyak musisi inginkan: karakter. Tak butuh waktu lama, saya be...

SETELAH MEMBACA IN THE TIME OF BUTTERFLIES

Tiba-tiba semua yang merupakan amerika latin terbayang di pikiran saya: Fidel Castro, Havana, Ernesto "Che" Guevara, Karibia, Ken Karol Kariola, Pablo Nerruda, Chavez, Simon Bolivar, Jose Marti, Camila Vallejo --dan yang lain-lain tentu saja-- karena sebuah buku fiksi tentang satu sejarah di republik Dominika: Kisah tentang martir perjuangan --Para kupu-kupu. Mereka disebut Mariposa. Tiga bersaudari dari keluarga Mirabal yang menggunakan sandi nama latin kupu-kupu sebagai penyamaran dalam gerakan bawah tanah. Julia Alvarez yang merupakan penulis novel-berdasarkan-kisah-nyata tersebut merangkainya dengan utuh dan sangat berhati-hati. Terasa sekali dari bagaimana ia memberikan nyawa pada setiap tokoh dan alur yang dibangunnya. Empat bersaudari Mirabal itu ia jadikan sebagai sudut pandang cerita. Ya. Empat-empatnya sekaligus. "Menerima tawaran pengampunan berarti kami mengakui kami melakukan sesuatu yang memerlukan pengampunan. Selain itu, kami tidak boleh menerima ...

MEMBACA NOVEL “O” EKA KURNIAWAN

Meskipun Fiksi, harus saya akui cerita yang ditulis Eka lebih dekat dengan kenyataan. Bahkan obrolan para binatang itu pun saya lebih senang menganggapnya adalah benar terjadi di dunia sebenarnya. Eka memang menulis Fabel kontemporer, tapi lebih jauh dari itu. Eka sedang memecahkan puzzle raksasa, lalu ia merangkainya menjadi sesuatu yang lebih berarti. “Kata Tetua Monyet, Kau Hidup terlalu tua sampai tak bisa melihat selalu ada banyak jalan untuk segala sesuatu” (Hlm. 233) Beberapa orang mungkin salah menyebut judul novel ini. Ada yang bilang “kosong”, “Nol”, di beberapa yang lain malah bertanya, “Loh. Ini judulnya apa?” Padahal Novel dengan halaman belakang yang hanya tertulis “Tentang Seekor Monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut” ini berjudul sangat simple. yaitu satu huruf hidup. atau satu huruf abjad. iya, O. "Kau tahu, semua makhluk hidup dengan alat pembunuh, tanpa itu mereka tak akan bertahan di dunia ini (O, hlm 233) Dan seperti itulah Ek...
GIRINDRA : Dunia Sejarah dalam cinta lama saya yang bersemi kembali  Oleh MH Maulana Saya masih selalu terkenang dengan dhawuh mas siwi kalau sejarah lahir –dan dilegalkan-  tergantung penguasa. Perkataan ini saya dapat sudah lama, kira-kira pas saya masih SMA dan masih sering berkunjung dalam rangka pelarian ke sanggar pena ananda. Kemudian terbilang menarik kalau mas siwi sang (saya sering mempermasalahkan nama ini, kenapa tidak sang siwi saja) membuktikan ijtihad tentang kesejarahan dalam sebuah buku GIRINDRA, yang menurut penuturannya sebagai babon dari (yang akan segera terbit) novel KERTABUMI : sunyi menari diatas sepi.             buku GIRINDRA begitu menggoda untuk dibaca -bahkan sebelum terbit- karena mas siwi dan bunda selalu memprovokasi tentang masa lalu saya yang kebetulan menyenangi novel sejarah dan sering terlibat diskusi kecil-kecilan mengenai dunia sastra dan kesejarahan. Hasilnya, saya taha...