Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Budaya

Selamat 76 tahun, Tuan Haruki!

Pertama sekali saya ucapkan kepada tuan: Selamat atas capaian usia ini! entah itu berarti apa, saya selalu mendoakan yang terbaik bagi tuan. Kalau tidak ada tuan Haruki Murakami, saya tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan saya jalani. Seperti yang pernah tuan katakan dalam ‘What I Talk When I Talk About Running’, “Hingga saat ini, hidupku—walaupun tidak cukup untuk bisa dikatakan memuaskan—bisa dibilang cukup menyenangkan,” tulis Tuan. Setiap mengingat tuan, saya akan selalu ingat bagaimana semua ini dimulai. Saat itu, tahun 2013, hujan baru saja berhenti. Malam seperti baru saja menghempaskan udara baru yang sempat tertahan. Udaranya begitu segar seperti baru saja terlahir dari bawah tanah selepas menampung guyuran deras air selama berjam-jam. Saya tiba-tiba saja secara acak menemukan buku tuan bersampul biru dengan judul Dunia Kafka yang dicetak tebal. Ketika saya mulai membacanya pada halaman-halaman awal ada perasaan ganjil, apa maksudnya gaya cerita ini. Bocah ...

Marathon Pertama, Akhirnya

Langit masih gelap. Ribuan orang berbondong-bondong mengenakan pakaian yang semarak dan outfit lari yang lengkap. Mereka semua, dan saya juga, ini rasa-rasanya termasuk sebagian besar orang-orang yang rela tidur sebentar, menempuh perjalanan jauh, berlatih cukup keras, berharap-harap cemas saat undian acak kelolosan, dan mengeluarkan biaya untuk menyakiti diri sendiri demi berlari puluhan kilometer.  Saya berjalan beriringan bersama yang lain menuju garis start. Ada suasana haru, merinding, cemas, bangga, bahagia, dan semangat yang bercampur di sana, seperti potongan perasaan yang melebur halus dan lembut dalam blender jiwa. Sembari melewati jalanan aspal di kompleks candi, rindang pepohonan, dan basah rerumputan setelah hujan, saya mencoba mengingat bagaimana ini semua dimulai.  Saat itu, akhir tahun 2022. Saya mencoba berlari menggunakan aplikasi pengukur waktu, jarak, dan kecepatan dari Nike. Sebelumnya, setelah saya mengalami gejala covid-19 dan mengisolasi diri dua minggu...

Rendezvous bersama Ratimaya dalam Dongeng Selepas Hujan

  Video pertunjukkan bisa dilihat  di sini Beberapa pohon dan guguran daunnya hadir pada lanskap itu. Ratimaya berpenampilan sederhana saja. Dan hujan, dalam dongeng itu, menjatuhkan diri bersama-sama. Dan saya, mungkin juga pemirsa semua, basah oleh keindahannya. Selanjutnya adalah ingatan, permenungan, dan kegembiraan. Bagi saya, dongeng selalu unggul. Maksudnya, ia akan selalu menjadi medium ampuh penyampaian pesan yang nyaris tanpa tanding. Dongeng memungkinkan semua kemungkinan. Dongeng melekat seperti lem ghaib yang menempel pada memori kita. "Mendongeng bersama Ratimaya." Tajuk awalan itu yang sering Ratimaya gunakan dalam memulai dongengnya. Dan sejak kalimat itu juga, ia seketika menjadi bukan bagian dari dunia ini. Sukmanya hadir menjelma pendongeng ulung yang sudah seperti melewati ribuan musim pada dunia, sekaligus ia bawa dunia yang bermacam-macam itu, pada kita. Beberapa kali ia hadirkan gunung, sungai, dan lautan yang membentang pada ingatan terdalam ki...

Betapa Jarak Begitu Singkat dan Pejal Kenangan Begitu Berserak

  Noon - Rest from Work (after Millet) by Vincent Van Gogh 1. Kota-kota meremaja dalam ingatanku.  Mulanya hujan menebar baris. Tepat ketika kita memasuki tapal batas lelap. Perbincangan dan perjamuan yang belum habis namun waktu memaksa bergegas. Pada waktu itu pula, ditarik semua cerita yang pernah terperangkap dalam ruangnya. Di masa silam, pada basah air yang masih sama. Pada jendela dan toko-toko yang seperti ditakdirkan tidak berubah selamanya. Kita menghitungnya perlahan. Cukup berhati-hati. Kita begitu khawatir kehilangan sekelebat detailnya. Cinta, tiba-tiba menyeruak dalam perasaan ganjil dan menghangatkan. Perasaan itu, seringkali datang. Tak peduli lipatan usia menabalkannya. Kita, begitu sentimentil di hadapan sejarah, yang kita tulis sendiri.  2. Drama di setiap kota yang memainkan lakon kita kembali.  Sejak dari berbagai peristiwa terjadi. Serupa buku, kita menanggalkan beberapa halaman yang belum sempat kita tuliskan cuaca, suasana, dan potret terbaik...

Galeri Kecil Bersama #1 : Tentang Petani

Foto Pribadi, Sawah di Gunung Kidul Ide awalnya adalah keinginan berkarya bersama. Dibuat dari tempat yang berbeda-beda dalam merespon ide atau tema awal yang disepakati. Sebagai awalan, cerita sederhana tentang petani menjadi babak pembuka. Singkatnya, Mas Yudi malam itu (22/3) mengabarkan via chat. Ia baru saja bertemu beberapa petani muda dari Magelang yang memiliki energi dan semangat yang menarik. Ia seketika membuat rekaman sederhana petikan gitar yang berdurasi sekitar Dua menit dan dikirim ke saya. Ia menginginkan agar saya membuat puisi dan membacakannya untuk mengisi nada yang telah dibuatnya tersebut. Malam itu juga saya membuat  semacam puisinya. Saya tulis dan saya rekam menggunakan Hp untuk nanti digabungkan dengan aplikasi Wavepad Audio. Judul 'menuju merdeka' saya pilih untuk memaknai cerita singkat dan nada petikan gitar yang telah dikirim. Tanpa maksud berlebihan, gagasan puisinya ditujukan untuk menceritakan ulang cerita itu. Dan barangkali juga, cer...

MENUJU 4 TAHUN RING WOLOE, APAKAH SEDJARAH AKAN MELAJOE?

Instagram.com/ringwoloe 1. Bisa iya, bisa tidak. Yang pasti, sejak nama band itu dipanggil. penonton yang sudah crowded sejak band sebelumnya semakin mendapatkan pamungkasnya pertunjukan. Dan seperti bisa ditebak: tepuk tangan langsung bergemuruh. Halaman salah satu kampus malam itu cukup basah setelah hujan. Hawa sejuknya menguar. Penonton yang kebanyakan dari organisaai mahasiswa itu pun serasa mendapatkan suasana terbaik untuk larut dalam irama dan lagu-lagu dari pengisi acara utamanya. Lima lagu yang sudah disiapkan dari latihan dan telah melewati beberapa panggung itu disuguhkan dengan epik dan total. Semua terlihat menikmati permainan musiknya. Bisa dilihat, bahwa jam terbangnya memang sudah tinggi. Dandanan mereka juga nampak santai. Tak ada aksesoris mencolok. Tak ada gaya pakaian yang biasanya menjadi idenditas jenis musik yang mereka bawakan. Saya percaya, bahwa band ini memang fokus pada penampilan musik dan semangat pesan dalam liriknya. Bukan kulit semata. ...

SEBUAH BAND BERNAMA DIANDRAS TELAH BERHASIL MENYIHIR HUTAN PINUS MALAM ITU

Oleh : Mh maulana Diandras. Photo by abu bakar justitia mukti Seketika suasana sunyi. Instrumen irama berangsur masuk. Pelan. Synthizer mulai ambil bagian. Lalu gitar, bass, rhytem, drum. Vokal mengisi suara-suara lepas-tertahan. Tidak ada lirik. Semua tiba-tiba menjadi riuh dan megah. Prolog lagu pembuka yang garang. Penonton masih membisu. Pinus-pinus membeku di udara. Lagu itu berjudul gusar --semacam sihir awal yang dramatis. Selepas maghrib. Malam itu (2/12) sebuah kompleks panggung sunyi di hutan Mangunan disulap anak-anak ekonomi kampus UAD menjadi pertunjukan musik yang semarak. Acara rutin tahunan jurusan dijauhkan dari pusat kota. Bukti bahwa musik masih penting, ratusan orang berbondong datang kesana. Dan sebuah band bernama diandras diundang hadir. Ia tak sendiri. Ada illona and the soul project sebelumnya. Juga Eka gustiwana x prince husein setelahnya. Acara dikemas cukup epik. Lampu-lampu penuh warna bertebaran di salah satu bagian hutan itu. Tiketnya berkisar ...

PERCAKAPAN KELUARGA

Foto pribadi. Bercengkrama, 2017 1. Istri saya terus mendukung saya, mas Itu yang membuat saya Terus bertahan Sampai hari ini 2. Malam lewat seperti biasa Di kota ini Kopi telah sekian kali diteguk Tembakau dilinting Rokok bungkusan sudah hampir habis Mengisi sela antara percakapan dan nafas sejenak Diantara orang-orang yang berbicara 3. Anaknya dua, laki-laki semua Yang perempuan meninggal sesaat setelah dilahirkan Anaknya yang laki-laki ketiga lahir sehari sebelum bapaknya berangkat mogok kerja Istrinya tidak mengenal undang-undang buruh dan teori demonstrasi Mungkin belum, Tapi kesabaran dan keyakinannya melampaui anggapan orang pada umumnya 4. Saya boleh dibilang yang paling tua di tempat kerja Lelaki disamping bapak tadi ikut bersuara Tapi saya tidak bisa diam melihat ketidakadilan ini Istrinya disamping pintu tersenyum Barangkali keyakinan lebih diperlukan daripada pertanyaan-pertanyaan yang membuat suaminya tidak bisa tidur Bermalam-malam 5. ...

MENULIS

Foto pribadi. Bukuku, 2017 Baginya adalah jalan suci. Ia sangat meyakini itu. Sampai ia menyadari satu hal. Tulisannya tak kunjung jadi, padahal segala niat dan puja untuk Tuhan sudah dilakukannya. Ia  pun akhirnya menyerah. Ia harus menemui seseorang. Orang yang mungkin bisa membantu masalahnya. Hari itu kota sudah cukup gelap. Ia melangkahkan kaki memasuki pekarangan sebuah rumah. Seseorang yang ingin ditemuinya sedang duduk di beranda. Tersenyum. "Mengapa menulis rasanya susah sekali ya, Kyai?" "Mungkin anda harus menipu setan?" "Maksudnya?" "Jadi kalau saya nulis itu dari awal saya tidak niatkan tulisan saya untuk Allah, untuk agama, untuk kebaikan, dan lain-lain. Justru saya malah niatkan tulisan itu untuk sombong, untuk bisa kaya, dan terkenal. Kalau saya dari awal meniatkannya untuk ibadah, setan akan bersemangat sekali menggoda agar tulisannya tidak jadi-jadi. Lha kalau saya meniatkan dari awal untuk urusan dunia, setan juga aka...

SETELAH MEMBACA IN THE TIME OF BUTTERFLIES

Tiba-tiba semua yang merupakan amerika latin terbayang di pikiran saya: Fidel Castro, Havana, Ernesto "Che" Guevara, Karibia, Ken Karol Kariola, Pablo Nerruda, Chavez, Simon Bolivar, Jose Marti, Camila Vallejo --dan yang lain-lain tentu saja-- karena sebuah buku fiksi tentang satu sejarah di republik Dominika: Kisah tentang martir perjuangan --Para kupu-kupu. Mereka disebut Mariposa. Tiga bersaudari dari keluarga Mirabal yang menggunakan sandi nama latin kupu-kupu sebagai penyamaran dalam gerakan bawah tanah. Julia Alvarez yang merupakan penulis novel-berdasarkan-kisah-nyata tersebut merangkainya dengan utuh dan sangat berhati-hati. Terasa sekali dari bagaimana ia memberikan nyawa pada setiap tokoh dan alur yang dibangunnya. Empat bersaudari Mirabal itu ia jadikan sebagai sudut pandang cerita. Ya. Empat-empatnya sekaligus. "Menerima tawaran pengampunan berarti kami mengakui kami melakukan sesuatu yang memerlukan pengampunan. Selain itu, kami tidak boleh menerima ...

BUKU, DONGENG, DAN HATI-HATI DI JALAN

Dokumen pribadi. Dua buku, 2017 "Kami percaya, semua orang membutuhkan cerita untuk dipercayai." Sore itu (12/6) untuk pertama kalinya kami mengunjungi perpustakaan Grahatama. Perpustakaan kepunyaan Provinsi DIY. Perpustakaan yang disebut sebagai yang terbesar di seluruh asia tenggara. Tidak begitu spesial sebenarnya, atau mungkin memang saya yang belum mengenal secara mendalam ruang dan bangunan tersebut. Tapi boleh dibilang koleksi buku dan suasana membacanya menyenangkan. Kami mencoba memasuki ruang buku langka terlebih dahulu. Buku berbagai bahasa dengan tahun yang lampau memenuhi rak dan almarinya. Tak sedikit bahkan sudah mulai aus dan sulit dibaca. Kami seperti mengunjungi museum di ruangan tersebut. Klasik. Sepi. Tua. Tapi memberikan perenungan. Tak berselang lama, kami berpindah ke ruang Ensiklopedia. Amba terlebih dulu masuk dan saya tertahan di luar oleh buku  yang berjudul tentang mitos dan dongeng dari penjuru dunia. Saya menikmati buk...