Skip to main content

Posts

PINALTI BOLA KERTAS

"Wah, Asik tenan dolanan iki, Mas. Sesuk aku dolanan iki ae nang kelas. Ora njajan yowes" (Hendra) Sore itu (27/2) seperti biasa, anak-anak sekolah pinggir sungai datang untuk belajar di rumah Bu Dewi. Belasan anak-anak yang menamakan dirinya sekolah rakyat ANSEN (Anak Sendowo) itu memadati rumah yang lokasinya pas berada di pinggir kali Codhe. Adalah Hendra. Ketua kelas yang masih menjabat sampai periode ini terlihat lumayan puas setelah menyelesaikan soal yang diberikan oleh Mbak Afri kepadanya. Beberapa teman disampingnya juga nampak segera selesai menyelesaikan pekerjaan angka-angkanya. Mereka adalah Fiyan, Nanda, Nico, dan Rasya. Kelompok laki-laki belia yang biasa berkerumun itu memang sudah seperti geng. selain aktif datang mengikuti kegiatan belajar bersama sore hari, mereka juga terkenal dengan kenakalannya yang sering membuat para pengajar gedek-gedek kepala. Padahal usia mereka loh masih seumur jagung. Iya, Rata-rata masih pada kelas 3 SD. Dan para ...

TENTANG TULISAN-TULISAN YANG GAGAL TERTULIS

Pertama sekali, seharusnya tulisan dengan judul yang sama seperti diatas ini mestinya sudah jadi kemarin malam. Iya, dengan isi tulisan yang lumayan panjangnya diatas rata-rata. Tapi kok ternyata, Terhapus. Iya e, memang terhapus. Sekali lagi ya, ter-ha-pus. Dan seperti kebiasaan saya yang ngetiknya di hape E75 peninggalan zaman megalitikum. Ya gitu, tidak bisa diundo. Hilang, Iya hi-lang. Tidak bisa kembali utuh lagi. Lebih konyolnya hal seperti itu tidak hanya terjadi satu dua kali. Apakah saya kecewa? Sangat. Terus apa yang akan saya lakukan? Awalnya saya akan menyalahkan dan menggoblok-goblokkan diri saya sendiri. Lalu setelah itu, saya mencoba menulis lagi. Entah nanti bagaimana jadinya Saya percaya, "Penyesalan, bagaimanapun modelnya, tidak akan membuat tulisan yang terhapus tiba-tiba muncul kembali. Tidak akan membuat yang pergi tiba-tiba datang kembali." Dan betapa sulitnya hidup dengan komitmen yang berat. Itulah kalimat saya yang pertama terlontar ketika...

MENGENAI BULAN BAHASA 2014 DI TAHUN 2015

Selamat membaca! Mungkin sudah 3 tahun ini bulan bahasa MAN Tambakberas dirayakan pada bulan Pebruari. Mengenai hal itu, Saya biasanya mendapat pertanyaan seperti ini, "Sesuk emang ape nangndi, Sen?" "Bulan Bahasa nang Jombang" "Loh bukane Bulan Bahasa iku pas Oktober" Tapi diperingati pada bulan dan tahun apapun, spirit merayakan bahasa dengan segala isi dan rangkaian acaranya selalu pantas untuk diperjuangkan. Lagipula memilih merayakan BBS di bulan Pebruari dan tahun yang sudah berganti adalah keputusan yang berani dan tidak biasa. Dewi lestari dalam novel Perahu Kertas bahkan menyebut hidup akan terasa singkat jika dilewati dengan biasa-biasa saja. Saya masih sangat ingat jam 3 dini hari (5/2) bersama Daus dan Si Kuning (motor honda tahun 86 klasik) dalam perjalanan dari Jogja menuju Jombang mengalami ban belakang macet di tengah hutan jalanan kota Ngawi. Saat itu, ban belakang motor memang tidak bisa digerakkan. Sedikit pun. Terpaksa k...

SEMACAM CERPEN KORUPSI

Katakanlah, suatu hari di suatu negeri yang tidak bernama "negeri asalnya" lagi. Korupsi benar-benar tidak ada. Orang-orang mulai berbondong-bondong bangun pagi. Merasa semuanya telah menjadi makmur dan sejahtera. "Tapi ternyata kok belum", kata seorang bapak yang namanya menggunakan kode sekian-sekian-sekian "Iya, masih ada segelintir orang yang berkuasa" kata seorang bapak berkode yang lain "Kita harus demo?" "Hah, ngapain?" Di Negari itu. Katakanlah nama negaranya rada ketimuran "Done se Yain". Korupsi hanya jadi dongeng masa lalu di sekolah kanak-kanak yang tak lagi menggunakan guru-guru di kelas. Biasanya hanya disetelkan pencahayaan 4 Dimensi. Dan guru-guru hanya tinggal melakukan rekaman dari rumah masing-masing. Ya, di rumah mereka yang atap dan lantainya sudah dipenuhi dengan kaca dan alat-alat yang sudah bisa aktif jika hanya disentuh dengan ujung-ujung jari. "Padahal Korupsi sudah tidak ...

DIBALIKNYA FILM "DIBALIK 98"

Dibalik 98? Ya, inilah salah satu Film yang sedang hangat-hangatnya menjadi pembicaraan di jagad perfilman tanah air, selain film Mery Riana, pendekar tongkat emas, dan Hijab-nya Hanung Bramantyo Mengapa demikian? Saya kira film ini tiba-tiba menjadi penting karena sempat menjadi pembahasan heboh di media sosial. Pasalnya beberapa aktifis 98 semacam Adian Napitupulu (yang perlu kita tanyakan lagi konsistensi aktifisnya) justru pesimis akan jalannya film ini yang nanti dikhawatirkan semakin mengaburkan kejadian 98 yang sebenarnya. Dan Lukman Sardi sebagai sutradara menegaskan bahwa ini bukan film sejarah, ini hanya film fiktif saja. Tapi disisi lain, Chelsea Islan yang ikut memerankan tokoh utama dalam film ini beberapa hari yang lalu justru menyampaikan bahwa anak SMA mestinya nonton Film ini. Biar tahu sejarahnya Indonesia. "Loh ya, piye to?" Dan hari itu (20/1) beberapa teman mengajak saya menonton film tersebut di XXI Ambarukmo Plaza. Karena tidak baik meno...

SI KUNING DAN PANTAI SOMANDENG GUNUNG KIDUL: SEBUAH PERJALANAN NEKAT DAN PENUH KEAJAIBAN

Libur telah tiba libur telah tiba hatiku gembira (Tasya) Akhirnya UAS sudah selesai, meskipun sepertinya kuliah (kok) masih lama. Tapi yang penting sekarang adalah musim liburan. Ya, memang membicarakan liburan, kita tidak bisa melepaskan diri dari peran revolusi bumi. Dimana revolusi itulah yang membuat musim di bumi terbagi menjadi dua. Yaitu musim liburan dan musim tidak liburan. Dan saya sebagai makhluk tuhan paling keren (Duh!), tentu saja lebih memilih musim liburan sebagai pasangan hidup saya. Halah! "Januari abu-abu. Langit mendung menggantung murung. Jalanan jogja basah; Pasrah" Hari itu (17/1) Hujan mengguyur awet kota Jogja. Rencana keberangkatan ke Gunung Kidul bersama Si Kuning setelah dzuhur terpaksa harus ditunda. Sehingga kita (Saya dan daus) memilih santai dahulu, menikmati film "flashdisan" sembari minum kopi di kos Wisnu (sebagai pengembara "no maden" tentunya). Hujan reda kira-kira jam 5 Sore. Karena kita sud...

MENGAPA SAYA HARUS NGGAK SUKA FILM KETIKA TUHAN JATUH CINTA

Dunia perfilman tanah air memang sedikit memberi angin segar hari-hari ini. Pasalnya, beberapa film yang mengutamakan kualitas mulai digarap. Seperti: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Pendekar Tongkat Emas, Dibalik 98, juga Film-Film dokumenter semacam Jagal dan Senyap. Hal ini juga ditandai meredupnya film hantu-hantu "porno" di pasaran. Sebetulnya saya memang kurang begitu serius berkosentrasi pada perkembangan film tanah air sampai mancanegara. Tapi, suatu hari --entah kapan, lupa-- saya meyakini bahwa tiga hal ini dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang: Buku yang kita baca, Film yang kita tonton, dan orang yang kita jumpai. Sehingga saya pun berkeyakinan bahwa hidup pasti begitu suram tanpa menonton film. Dalam kesempatan ini, ketika saya sedang kegiatan no maden di salah satu kontrakan teman, saya menemukan folder film ketika Tuhan jatuh cinta (2014). Sontak langsung saya putar film tersebut dengan tekhnologi ghaib KMP Player --Perlu saya beritahu ya sodar...