Skip to main content

Posts

Majelis Literasi #2 : Menabung dan Ekonomi Kreatif untuk Perjuangan

"Segala hal itu perlu diukur dan dihitung untuk meninimalisir kemungkinan terburuk" Tutur Mbak Pamela Malam itu (27/3) Jalan didepan rumah baca "TURUNAN" basah dan licin setelah diguyur hujan. Bahkan cuaca masih sedikit gerimis. Namun hal itu bukan halangan bagi kawan-kawan untuk melakukan aktifitas majelis literasi. Lantai sudah disapu, Papan tulis sudah berdiri, dan waktu sudah menunggu untuk segera dimulai. Kurang lebih pukul 8 malam diskusi santai dimulai. Belasan muda-mudi duduk khidmat mendengarkan dan bertanya pada mbak pamela atau mas arif. Sesekali menyemil jajan dan menyulut rokok. Mereka adalah fasilitator yang juga sebagai aktifis credit union. Diskusi santai kali ini membahas usaha menabung dan ekonomi kreatif untuk perjuangan. Tema tersebut diambil lantaran kegelisahan yang dialami kawan-kawan seringnya menghadapi kesulitan memecahkan masalah keuangan dan administrasi yang dialami personal, komunitas, dan organisasi. Hal itu juga diamini dengan 2 ...

BALADA SEHELAI DAUN

Entah mengapa. Setiap dongeng selalu diawali kata-kata pada suatu hari atau pada suatu ketika. Hmm… Bagaimana jika saat peristiwa itu terjadi. Belum ada hari, belum ada waktu, bahkan belum ada nama-nama. Seperti kisahku. Baiklah. Awalnya aku sengaja menyebut ini sebagai dongeng. Sebab jika ini kusebut cerita nyata, aku pasti dianggap pendusta. Dan jika ini kusebut fakta-fakta, aku pasti dituntut untuk menyebutkan rumus dan angka-angka. Maka ini kusebut saja sebagai dongeng. Jika orang dewasa tak bisa menerimanya. Biarlah, nanti anak-anak menikmatinya. Meskipun toh nanti diabaikan juga oleh anak-anak itu saat mereka tumbuh remaja. Inilah dongeng yang diawali pada suatu yang entah. Sebab memang benar belum ada hari dan waktu. Serius. Peristiwa ini bahkan telah terjadi sebelum 6 hari Tuhan menciptakan alam semesta seisinya. Singkatnya. Aku tumbuh di pohon itu. Pohon yang begitu dipuja dan ditakuti oleh semua penduduk surga. Sebab di pohon itu tumbuh buah yang menjadi rahasia pencip...

KOPI MAK'E

Namanya Kopi Mak'e. Warungnya sederhana. Fasilitasnya sederhana. Menu-menunya pun juga sederhana. Setiap pulang ke kampung halaman, saya pasti menyempatkan kesini. Jaraknya kurang lebih tujuh menit perjalanan motor dari rumah. "Ayo Ngopi. Aku wis ng Mak'e iki" "Oke. Otw" Warung Kopi Mak'e adalah tempat andalan kami untuk berkumpul. Kami biasa menghabiskan waktu berjam-jam disana. Membicarakan masa kini yang kelewat santai atau masa lalu yang begitu damai. "Mak. Kopi Pahit satu" Itu menu andalan yang saya pasti pesan. Kopinya serius. Dibuat dengan tangan legenda. Saya selalu berhasil menghabiskannya hingga tandas. Saya salut dengan Mak'e. Beliau tetap bertahan dengan kopi bubuk asli rumahan dari maraknya warung kopi lain yang kopi hitamnya menggunakan kopi sachetan. Mak'e pun begitu lihai meracik secangkir kopi. Meski sudah memasuki usia senja, tetap dijerangnya air. Disendoknya bubuk kopi dan gula. Lalu dipadukannya se...

DISEBABKAN OLEH SENO GUMIRA AJIDARMA

  Barangkali tidak berlebihan kalau saya menyebutnya penulis yang paling dibutuhkan zaman kita. Dia menulis apa saja. Mulai dari fiksi dan non fiksi. Mulai dari sastra sampai politik. Dan tulisannya seperti kopi yang enak ; harus dihabiskan hingga tandas. Dan Seno Gumira boleh dibilang sebagai acuan referensi bagi siapa saja yang ingin menulis, terlebih  cerpen dan esai –tanpa bermaksud mengabaikan penulis lain. Tulisannya mengerti benar apa yang dibutuhkan pembaca. Semacam oase dan kepuasan tersendiri bagi siapapun yang membaca tulisannya. Seno gumira pernah berkata sendiri dalam buku ‘ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara’, “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” Sampai suatu waktu jika ada kawan yang menanyakan bagaimana cara meningkatkan minat membaca ...

SUDAHLAH : Semacam Satire

Kan sudah berkali-kali aku katakan, berjuang itu tidak enak. Kamu sih tidak gampang percaya. Lebih enak itu melakukan yang pasti-pasti saja. Perjuanganmu itu butuh waktu lama, keburu kamu tua dan hasilmu pun tak seberapa. Kamu kok ngeyel sih, mau nulis puisi perjuangan atau cerpen perlawanan. Percuma! Lebih asik nulis puisi percintaan lalu cerpen perkelaminan sambil asik-asik di kamar dan tiduran. Ah, apalagi buat nyenengin pacar dan balikan sama mantan. Kalau yang ditulis soal rakyat terus isinya cuma kemiskinan dan kemelaratan. Buat apa! Toh keadaan memang begini adanya. Atau kamu mau belajar membaur dengan masyarakat. Halah, buat apa. Lebih nikmat tidur dan ikut seminar motivasi penambah harta. Pokoknya kita fokus cari duit yang banyak saja. Masyarakat nanti pasti akan ikut kamu kalau kamu punya banyak duit dan membagi-bagikannya. Apa? Kamu mau golput? Haha. Basi. Ayo memilih saja. Toh kamu nanti akan dikasih posisi yang enak dan duit yang bisa membuatmu tidur nyenyak. Memang...

PROSA JALANAN : JOGJA - JEMBER

Buat kamu, Dik 1. SESAMPAINYA DI SOLO. Pagi masih belum sungguh, Dik. Kau sedang apa. Shalat subuh atau masih tidur menggenggam bukumu yang sudah lusuh, Ya, itu buku yang tak pernah kau baca. Tapi kau selalu membawanya kemana-mana. Barangkali buku yang nampak biasa itu begitu membuatmu bisa berbahagia. Terminal masih sepi, Dik. Aku memandangi setiap yang terlihat dari dalam kaca. Barangkali kudapati kekasih yang sedang sendiri dan menunggu, hampir sama dengan kita, ya, kita yang bersama dan kita yang saling menunggu. Tapi bukankah semuanya saling menunggu. Menunggu untuk berpisah dan bersandar lelah. Atau kamu mungkin sedang terjaga, Dik. Lalu Tak kamu sentuh sama sekali handphone atau smartphone pemalas itu. Dan kamu melangkah keluar rumah. Sekadar menghirup haru embun yang basah dan sisa hujan diatas tanah. Wajahmu memerah. Kamu begitu bersuka cita. Dan semua itu kurasakan di lengang jalanan kota surakarta. Jangan lupa berhati-hati atas apa saja yang membuatmu bahagia. Sol...