Skip to main content

Posts

JUMAT KONTEMPLATIF BERSAMA THE PANAS DALAM DI ALBUM MERUNDUK

"Apakah kita benar-benar bahagia dalam hidup? Tuang Teh atau Kopimu. Lalu bersandar sejenak. Resapi perlahan Kemenanganmu mempertahankan hidup dari jumat-jumat sebelumnya : Bertahun-tahun lamanya. Ada nafas yang masih bisa kau hembus. Ada detak yang masih bisa terasa di degup jantung. Lalu lihat sekelilingmu. Pandang yang masih bisa disaksikan mata. Ruang yang masih bisa di-sentuh-sandar-kan tubuhmu. Orang-orang yang bisa kau tegur-sapa-cinta. Dan diantara semua itu. Barangkali kau membutuhkan musik --yang oleh Saras Dewi katakan semua orang bebas beragama didalamnya. Maka putarlah lagu-lagu The Panas Dalam di album 'Merunduk'. Lihat bagaimana Pidi Baiq dkk mampu menjadi sangat kontemplatif dari lagu-lagu absurd-nakal-polos di albumnya yang lain. The Panas Dalam dengan 5 lagu di album ini bagai pengkhotbah tanpa banyak ayat. Bagai pengembara yang membuka suara terdalamnya pada hidup. Lagunya dalam tapi tidak menjerumuskan. Musiknya pun digarap dengan sungguh-sungguh. ...

AKHIRNYA SAYA MEMILIH GUNS N' ROSES DAN 5 LAGU ITU

"Mbang, Ojo banter-banter neg nyetel lagu" "Yo, Mak. Tak cilikne" Percakapan itu terjadi ketika saya masih SD. Tepatnya di rumah mbah buyut. Dan itu adalah percakapan antara Om dan Mbah buyut saya. Lalu saya? Ya. Saya hanya bermain-main di halaman bersama teman-teman sembari menyadari bahwa lagu-lagu yang enak didengar dan mengalun keras tadi volumenya dikecilkan.   Mengingat kejadian berikutnya yaitu masih dengan usia di sekolah dasar akhir dan masa SMP, saya dan teman-teman sering mengadu tangkas dengan permainan Guitar Hero di layar playstation 1 & 2. Saya begitu suka melodinya, tapi tak pernah hafal siapa penyanyi dan apa judul lagunya. Saya hanya bisa sedikit menirukan melodinya melalui mulut, "Teng nong neng nong teng nong neng nong" Ya. Sampai bertahun-tahun kemudian saya menemukannya. Benar sekali. Pemilik melodi dan lagu-lagu cadas itu adalah Guns n' Roses : The most dangerious band in the world. Dan seiring kemajuan akses in...

21 DAN SEKIAN KEMUNGKINAN

Ibuk selalu melakukannya. Dari saya kecil, adik lahir, sampai saya segondrong ini. Ya. Ibuk berpuasa tiap tanggal anak-anaknya terulang. Dan beberapa hari lalu tanggal saya terulang. Oh ibuk. Semua di rumah sehat kan? Dan mengenai waktu yang sudah sampai hari ini, apa yang sudah saya lakukan? Banyak. Apa yang belum saya lakukan? Juga tak kalah banyak. Lebih sangat banyak. Saya selalu percaya. Ulang tahun adalah peristiwa ketika umur berkurang dan bertambah dalam satu waktu. Meskipun saya tak peduli antara kaitan umur dan kedewasaan. Saya cukup menggariskan saja. Saat ini: 21. Saya akui. Banyak sekali pekerjaan rumah yang belum selesai. Terlebih akhir-akhir ini saya malas sekali menulis, membaca satu buku yang tak selesai-selesai, dan beberapa hal yang mestinya saya cicil tak satupun ada yang terkerjakan. Bahkan menyelesaikan tulisan ini saja pun tak usai-usai. Ya. Saya memang pengikut setia rasa malas, menunda-nunda, dan bangun siang yang masih mitos untuk mampu saya lawan de...

FIJNE VERJAARDAG, NDELS

Buat Yeni Mutiara Ya. Itu bahasa belanda. Saya sempatkan menulis di google translate biar kelihatan agak keren. Biar kita semakin dekat dengan kota impian itu --Kota yang melahirkan orang hebat semacam Multatuli, Henk Sneevliet, dan Van Gogh-- untuk pergi ngopi lalu pulang kembali ke Indonesia. Mengenai arti kalimat itu sila cari sendiri. Mudah saja. Cukup dengan menuliskannya ulang di google translate. Jangan beralasan Hape Sm**rtf**n terhebat sepanjang masamu itu tak ada paket data. "Jogja hujan terus, kamu tidak sedang bersedih kan?" Masih seputar hari yang agak bersejarah untumu. Hari atau lebih tepatnya tanggal yang sebenarnya kamu tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia. Sehingga kamu harus bertemu orang keren dan cukup berbahaya seperti aku. Orang yang akan selalu mendebatmu dengan tangguh, meskipun hal itu juga berlaku sebaliknya. "Bukan seberapa kuat Cinta, tapi seberapa hebat Rangga sehingga akhirnya cinta memutuskan menjalin hubungan itu kembali...

Menebak Sakitmu Diantara Deretan Proposal dan Naskah yang Belum Jadi

Buat Dik Betapa tidak enak mengunyah makanan favorit kita saat kau sakit. Begitu juga tawa lepas pagi kanak-kanakmu yang lebih membahagiakan dari mendapat arisan belum juga kudengarkan. Seperti basi salam pembuka sembutan aku pun mengatakannya: cepat sembuh, cepat sehat, dan segala kecepatan lain. Mesti belum sepenuhnya tepat. Belum. Dan diantara rentetan tenggat tercatat aku masih saja menebak sakitmu yang entah untuk apa. Bukan. Aku bukan dokter yang lantas menganjurkanmu tiga kali sehari menelan kepahitan palsu. Aku. Seperti halnya kanak-kanak ingin bahagia menuruti keinginannya. Meski tak jarang lalu lebih mencelakai. Kamu lebih berbahaya dari menerobos lampu merah. Aku waspada. Sambil siaga. Sesekali bisa muncul ancaman yang membuatku akan semakin lebih sangat mencintaimu lagi. Kamu pohon kaktus kesayangan. Betapa aku tak akan membiarkannya kekeringan. Jangan sakit. tentu itu ucapan bodoh dan egois. Seperti tukang pos kehilangan alamat surat di muka amplop. Aku mencari sakit...

Tiga Komposisi

Buat Dik /1/. Lagrima Pun denting Bercakap tentang kita Yang saling bersandar Dalam kata Tentang jalan berkelok Sebelum kedai kopi itu Tempat dimana ingatan Lupa jalan pulang Lalu tak mau pergi /2/. Romance De Amor Sementara perang batin Pecah Karena kita khawatir Saling tak bisa merawat luka masing-masing Padahal aku butuh bersandar lelah Di rumahmu Tempat dari segala pembatas buku Di setiap yang kubaca Barangkali juga kamu Butuh pemantik api Tuk membakar lilin-lilin Yang kau kumpulkan setiap haru lahirmu tiba Dan kita berdebat Tentang manakah yang akan lebih dulu dilupakan anak-anak Antara capung di rerumputan Atau kunang-kunang di malamnya kegelapan Oh, Sayang Padahal bukankah semua baik-baik saja Di cinta kita Yang sederhana /3/. Canon in D Sementara cinta itu Sendiri kita ikat kuat Agar tak mudah patah kita genggam erat Agar tak gampang jatuh Sampai mawar lupa cara berbunga Sampai lalu tak tumbuh lagi Jogja. April-Mei, 2016 ...

MEMBACA NOVEL “O” EKA KURNIAWAN

Meskipun Fiksi, harus saya akui cerita yang ditulis Eka lebih dekat dengan kenyataan. Bahkan obrolan para binatang itu pun saya lebih senang menganggapnya adalah benar terjadi di dunia sebenarnya. Eka memang menulis Fabel kontemporer, tapi lebih jauh dari itu. Eka sedang memecahkan puzzle raksasa, lalu ia merangkainya menjadi sesuatu yang lebih berarti. “Kata Tetua Monyet, Kau Hidup terlalu tua sampai tak bisa melihat selalu ada banyak jalan untuk segala sesuatu” (Hlm. 233) Beberapa orang mungkin salah menyebut judul novel ini. Ada yang bilang “kosong”, “Nol”, di beberapa yang lain malah bertanya, “Loh. Ini judulnya apa?” Padahal Novel dengan halaman belakang yang hanya tertulis “Tentang Seekor Monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut” ini berjudul sangat simple. yaitu satu huruf hidup. atau satu huruf abjad. iya, O. "Kau tahu, semua makhluk hidup dengan alat pembunuh, tanpa itu mereka tak akan bertahan di dunia ini (O, hlm 233) Dan seperti itulah Ek...