Skip to main content

Posts

SEBUAH KISAH KECIL TENTANG OBROLAN DAN KOPI DI PASAR GENTENG, BANYUWANGI

Warung Mbah Kapi Warung kopi legendaris ini berdiri sejak tahun 1972. Pendirinya bernama Mbah Kapi. Letaknya berada di lantai dua pasar tradisional kecamatan Genteng. Biasa saja. Hanya memang suasananya lumayan ramai. Ada dua warung yang ternyata keduanya masih keluarga. Warung makan dan jajanan. Lalu, warung kopi. Iya, hanya kopi. Bukan macam-macam pilihan jenis kopi. Saya menduga itu adalah kopi robusta bubuk yang digiling sendiri. Semua meja disana memesan itu: kopi dengan cangkir kecil putih porselin dengan tutupnya yang khas. Tak lupa juga disediakan sendok kecil. Untuk kopi bisa diaduk lagi. "Biar lebih mantap" Ucap seorang bapak paruh baya didepan saya. Saya dipesankan kopi dengan cangkir cukup besar oleh Mas Farid. Kawannya bilang kalau gelasnya seperti itu untuk orang baru, biar besok datang lagi. Saya mengiyakan saja. Dan kopinya memang enak. Agak manis dan pahit dengan rasa cukup halus. Khas kopi-kopi di jawa timur. Saya menikmatinya sambil tiba-tiba...

SETELAH MEMBACA IN THE TIME OF BUTTERFLIES

Tiba-tiba semua yang merupakan amerika latin terbayang di pikiran saya: Fidel Castro, Havana, Ernesto "Che" Guevara, Karibia, Ken Karol Kariola, Pablo Nerruda, Chavez, Simon Bolivar, Jose Marti, Camila Vallejo --dan yang lain-lain tentu saja-- karena sebuah buku fiksi tentang satu sejarah di republik Dominika: Kisah tentang martir perjuangan --Para kupu-kupu. Mereka disebut Mariposa. Tiga bersaudari dari keluarga Mirabal yang menggunakan sandi nama latin kupu-kupu sebagai penyamaran dalam gerakan bawah tanah. Julia Alvarez yang merupakan penulis novel-berdasarkan-kisah-nyata tersebut merangkainya dengan utuh dan sangat berhati-hati. Terasa sekali dari bagaimana ia memberikan nyawa pada setiap tokoh dan alur yang dibangunnya. Empat bersaudari Mirabal itu ia jadikan sebagai sudut pandang cerita. Ya. Empat-empatnya sekaligus. "Menerima tawaran pengampunan berarti kami mengakui kami melakukan sesuatu yang memerlukan pengampunan. Selain itu, kami tidak boleh menerima ...

CERITA ULANG TENTANG TAHUN

https://www.instagram.com/p/BQj1eV5hWVU/ Buat Uci Perempuan itu melihat malam sebentar lagi jatuh. Pandangannya menyapu sekeliling. Kota-kota memang selalu begitu. menyimpan misteri perihal masa lalu yang beragam dan masa depan yang belum pasti. Dilihatnya lagi langit malam yang mungkin benar-benar akan jatuh tersebut. Hitam. Kosong. Dan mungkin ada kehidupan dibaliknya. Perlahan dia tarik nafas cukup panjang. Lalu dia hembuskan cukup lama. Dan dia tersenyum.  Barangkali memang pemandangan yang biasa. Perempuan itu berkerudung hitam dengan setelan gelap. Sesekali tangannya memainkan gawai. Diingatnya segala hal yang telah lewat dan pandangannya menerawang jauh pada hari esok yang entah. Angin cukup kencang malam itu. Musim kemarau telah tiba. Segala yang hidup selalu bersiap dengan perubahan yang ada. Yang tiba-tiba.  Dia sadar betul. Dalam hitungan jam usianya sebentar lagi akan bertambah sekaligus berkurang dalam satu waktu. Sedari pagi, dia sudah menyiapka...

JADI, CERITANYA

buat Yeni Mutiara Usia. Kata Sakhespare, seperti cinta. Tak dapat disembunyikan. Jadi kamu memang harus menyadari benar, Ndel. Kamu semakin tua. Dan iya gitu, tambah tua. Jogja malam itu sepi. Sepi dalam pengertian saya sendiri tentu saja. Lalu dengan segenap kesepian itu saya bersama kawan bergerak ke kedai kebun. Niat merayakan kesepian bersama musik puisi Ari Reda. Biar gembira. Gembira sih memang. Tapi meskipun klise, kurang lengkap karena kamu tidak ikut. Saya ingat kita pernah gagal nonton konser ini. Kurang lebih setahun yang lewat. Saat kita tengah bersemangat-semangat niat membeli tiket. Yang tertulis: Sold Out. Dan beberapa hari yang lalu lewat jejaring facebook, seorang kawan jauh memberitahukan Ari Reda akan menggelar acara mendadak konser di Jogja. Dan sialnya, kamu sudah balik. Iya. Saya lumayan kecewa. Dan kamu: lumayan kecewa banget. Bukan bermaksud sok romantis. Hanya saja ketika lagu puisi "Di Restoran" dilantunkan, saya ingat kamu sering mend...

BUKU, DONGENG, DAN HATI-HATI DI JALAN

Dokumen pribadi. Dua buku, 2017 "Kami percaya, semua orang membutuhkan cerita untuk dipercayai." Sore itu (12/6) untuk pertama kalinya kami mengunjungi perpustakaan Grahatama. Perpustakaan kepunyaan Provinsi DIY. Perpustakaan yang disebut sebagai yang terbesar di seluruh asia tenggara. Tidak begitu spesial sebenarnya, atau mungkin memang saya yang belum mengenal secara mendalam ruang dan bangunan tersebut. Tapi boleh dibilang koleksi buku dan suasana membacanya menyenangkan. Kami mencoba memasuki ruang buku langka terlebih dahulu. Buku berbagai bahasa dengan tahun yang lampau memenuhi rak dan almarinya. Tak sedikit bahkan sudah mulai aus dan sulit dibaca. Kami seperti mengunjungi museum di ruangan tersebut. Klasik. Sepi. Tua. Tapi memberikan perenungan. Tak berselang lama, kami berpindah ke ruang Ensiklopedia. Amba terlebih dulu masuk dan saya tertahan di luar oleh buku  yang berjudul tentang mitos dan dongeng dari penjuru dunia. Saya menikmati buk...

PAGI YANG BERHEMBUS KE TIMUR

Dokumen pribadi. Sembunyi tangan, 2017 Buat Daus Tak ada pagi Yang lebih tenang Selain menuju ke kotamu Semuanya kembali kanak-kanak Ingataanku pada ibu : kembali Lelaki itu Berbaju duka Disiapkannya sejak shubuh Untuk membunuh kesepiannya sendiri Ke timur tepatnya Rindunya siap dimutilasi Perempuannya barangkali pun Menunggu Bersama pisau sunyi Yang diasah sekian lama Pembunuhan yang baik, katanya Harus benar-benar direncanakan Keduanya saling menyiapkan Cara terbaik Untuk membunuh Biar sisa darah Terbawa sampai jauh Ke mimpi Lelaki dan perempuan itu Percaya, Membunuh menjadi tak baik, Jika dilakukan setengah-setengah Perlahan tubuh-tubuh dibasahi cuaca Doa-doa diniatkan Roda-roda Langkah-langkah Yakin Mata angin Sudah mempertemukan Mereka Dan sejauh yang saya ingat, Di pagi yang berhembus ke timur itu, Kematian dirayakan dengan suka cita Jogja, Juni 2017 Nb : Titip ucapan selamat ulang tahun juga pada ...

MENULIS DAN MEMBACA SEBAGAI USAHA YANG SIA-SIA

Coretan saya. Sia-saya, Juni 2017 Pemuda itu bernama Sifisus. Dia masih saja mendorong batu raksasa ke puncak gunung. Begitu batu menggelinding ke bawah, sifisus mendorong dengan susah payah batu tersebut menuju ke puncak gunung lagi. Lalu menggelinding ke bawah lagi. Sifisus turun. Mendorong lagi ke puncak. Menggelinding ke bawah. Mendorong lagi ke puncak. Turun. Naik lagi. Terus diulang. Tak pernah berhenti. Kemudian Ekalawya. Pemanah terbaik yang berasal dari kasta sudra itu terus berlatih tak kenal waktu. Kecintaan pada guru Durna membuatnya membaktikan seluruh kemampuannya untuk terus berlatih agar bisa diangkat murid oleh sang guru. Namun Durna telah terikat tugas untuk membuat pemanah terbaiknya adalah Arjuna. Sang guru menolak Ekalawya. Ekalawya tak menyerah. Dia bahkan membuat patung guru Durna untuk membuatnya merasa seakan-akan guru Durna mengawasi dan melatihnya. Sampai kemampuan memanahnya diketahui Durna bahwa itu adalah kemampuan yang bisa melampaui Arjuna. Dur...