Skip to main content

Posts

MENULIS

Foto pribadi. Bukuku, 2017 Baginya adalah jalan suci. Ia sangat meyakini itu. Sampai ia menyadari satu hal. Tulisannya tak kunjung jadi, padahal segala niat dan puja untuk Tuhan sudah dilakukannya. Ia  pun akhirnya menyerah. Ia harus menemui seseorang. Orang yang mungkin bisa membantu masalahnya. Hari itu kota sudah cukup gelap. Ia melangkahkan kaki memasuki pekarangan sebuah rumah. Seseorang yang ingin ditemuinya sedang duduk di beranda. Tersenyum. "Mengapa menulis rasanya susah sekali ya, Kyai?" "Mungkin anda harus menipu setan?" "Maksudnya?" "Jadi kalau saya nulis itu dari awal saya tidak niatkan tulisan saya untuk Allah, untuk agama, untuk kebaikan, dan lain-lain. Justru saya malah niatkan tulisan itu untuk sombong, untuk bisa kaya, dan terkenal. Kalau saya dari awal meniatkannya untuk ibadah, setan akan bersemangat sekali menggoda agar tulisannya tidak jadi-jadi. Lha kalau saya meniatkan dari awal untuk urusan dunia, setan juga aka...

AKHIRNYA, THE SIGIT

Foto kamera hp. Riuh, 2017 Setidaknya itu yang saya rasakan. Iya. Setelah sekian lama gagal menyaksikan konser salah satu band indie tanah air yang sekali lagi menegaskan bahwa rock dan garangnya sebuah lagu adalah sesuatu yang harus selalu ada. Saya, Amba, Jarpo, dan Maiko berangkat malam itu (9/9). Stadiun Mandala Krida Yogyakarta yang mestinya bisa ditempuh kurang dari 10 menit dari kontrakan tiba-tiba menjadi panjang, jauh, dan tentu saja: macet parah. Barangkali memang benar, tak ada belas kasihan untuk malam minggu di kota ini. Ruas jalannya penuh sesak --seperti mau meledak. Sesampai di tempar parkir, suara Rekti sudah terdengar samar. Saya dan amba langsung masuk kedalam. Jarpo dan Maiko sudah menunggu disana. Panggung sudah dipadati penonton. Meskipun boleh dibilang tidak terlalu ramai. Terlihat beberapa baliho rokok gudang garam signature. Acara malam itu bertajuk Music After Hours. Band pengisinya adalah The Sigit dan The Cangcuters. Penggila Rock n Roll sudah ba...

DI ATAS KAPAL, DI MATA SEORANG PEMULA

Kamera hp. Sang pemula, 2017 Akhirnya terwujud juga. Rambut berkibar diatas kapal. Dihempas angin laut. Rasanya seperti: merdeka. Saya berdiri. Lama sekali. Biru laut dan ombak terus berkejaran. Sesekali camar --yang seperti di lukisan itu-- menukik tajam memburu ikan-ikan. Dan di langit: awan bergerombol membuat bayangan pada bukit-bukit. Detik jam seakan tepat waktu. Matahari baru saja terbit. Cahaya kuning jingga berkilauan di ufuk timur. Rasanya hangat. Dan di depan mata, buih dan angin masih saja bertebaran kesana-kemari membuktikan semesta gagah di bumi ini: Cakrawala. Riuh terdengar suara isyarat kapal. kumandangnya memecah pagi. Orang-orang dengan berbagai perasaan memenuhi tempat duduk dan berdiri di pinggiran. Saya tetap berdiri. Mencoba menangkap keseluruhan pengalaman sebagai seorang pemula. Saya melihat sejauh yang memiliki batas. Pun memandang seluruh ruang di tempat yang copernicus sebut berbentuk bulat ini. Saya menikmati imajinasi dan kenyataan di kepala. ...

SEBUAH KISAH KECIL TENTANG OBROLAN DAN KOPI DI PASAR GENTENG, BANYUWANGI

Warung Mbah Kapi Warung kopi legendaris ini berdiri sejak tahun 1972. Pendirinya bernama Mbah Kapi. Letaknya berada di lantai dua pasar tradisional kecamatan Genteng. Biasa saja. Hanya memang suasananya lumayan ramai. Ada dua warung yang ternyata keduanya masih keluarga. Warung makan dan jajanan. Lalu, warung kopi. Iya, hanya kopi. Bukan macam-macam pilihan jenis kopi. Saya menduga itu adalah kopi robusta bubuk yang digiling sendiri. Semua meja disana memesan itu: kopi dengan cangkir kecil putih porselin dengan tutupnya yang khas. Tak lupa juga disediakan sendok kecil. Untuk kopi bisa diaduk lagi. "Biar lebih mantap" Ucap seorang bapak paruh baya didepan saya. Saya dipesankan kopi dengan cangkir cukup besar oleh Mas Farid. Kawannya bilang kalau gelasnya seperti itu untuk orang baru, biar besok datang lagi. Saya mengiyakan saja. Dan kopinya memang enak. Agak manis dan pahit dengan rasa cukup halus. Khas kopi-kopi di jawa timur. Saya menikmatinya sambil tiba-tiba...

SETELAH MEMBACA IN THE TIME OF BUTTERFLIES

Tiba-tiba semua yang merupakan amerika latin terbayang di pikiran saya: Fidel Castro, Havana, Ernesto "Che" Guevara, Karibia, Ken Karol Kariola, Pablo Nerruda, Chavez, Simon Bolivar, Jose Marti, Camila Vallejo --dan yang lain-lain tentu saja-- karena sebuah buku fiksi tentang satu sejarah di republik Dominika: Kisah tentang martir perjuangan --Para kupu-kupu. Mereka disebut Mariposa. Tiga bersaudari dari keluarga Mirabal yang menggunakan sandi nama latin kupu-kupu sebagai penyamaran dalam gerakan bawah tanah. Julia Alvarez yang merupakan penulis novel-berdasarkan-kisah-nyata tersebut merangkainya dengan utuh dan sangat berhati-hati. Terasa sekali dari bagaimana ia memberikan nyawa pada setiap tokoh dan alur yang dibangunnya. Empat bersaudari Mirabal itu ia jadikan sebagai sudut pandang cerita. Ya. Empat-empatnya sekaligus. "Menerima tawaran pengampunan berarti kami mengakui kami melakukan sesuatu yang memerlukan pengampunan. Selain itu, kami tidak boleh menerima ...

CERITA ULANG TENTANG TAHUN

https://www.instagram.com/p/BQj1eV5hWVU/ Buat Uci Perempuan itu melihat malam sebentar lagi jatuh. Pandangannya menyapu sekeliling. Kota-kota memang selalu begitu. menyimpan misteri perihal masa lalu yang beragam dan masa depan yang belum pasti. Dilihatnya lagi langit malam yang mungkin benar-benar akan jatuh tersebut. Hitam. Kosong. Dan mungkin ada kehidupan dibaliknya. Perlahan dia tarik nafas cukup panjang. Lalu dia hembuskan cukup lama. Dan dia tersenyum.  Barangkali memang pemandangan yang biasa. Perempuan itu berkerudung hitam dengan setelan gelap. Sesekali tangannya memainkan gawai. Diingatnya segala hal yang telah lewat dan pandangannya menerawang jauh pada hari esok yang entah. Angin cukup kencang malam itu. Musim kemarau telah tiba. Segala yang hidup selalu bersiap dengan perubahan yang ada. Yang tiba-tiba.  Dia sadar betul. Dalam hitungan jam usianya sebentar lagi akan bertambah sekaligus berkurang dalam satu waktu. Sedari pagi, dia sudah menyiapka...

JADI, CERITANYA

buat Yeni Mutiara Usia. Kata Sakhespare, seperti cinta. Tak dapat disembunyikan. Jadi kamu memang harus menyadari benar, Ndel. Kamu semakin tua. Dan iya gitu, tambah tua. Jogja malam itu sepi. Sepi dalam pengertian saya sendiri tentu saja. Lalu dengan segenap kesepian itu saya bersama kawan bergerak ke kedai kebun. Niat merayakan kesepian bersama musik puisi Ari Reda. Biar gembira. Gembira sih memang. Tapi meskipun klise, kurang lengkap karena kamu tidak ikut. Saya ingat kita pernah gagal nonton konser ini. Kurang lebih setahun yang lewat. Saat kita tengah bersemangat-semangat niat membeli tiket. Yang tertulis: Sold Out. Dan beberapa hari yang lalu lewat jejaring facebook, seorang kawan jauh memberitahukan Ari Reda akan menggelar acara mendadak konser di Jogja. Dan sialnya, kamu sudah balik. Iya. Saya lumayan kecewa. Dan kamu: lumayan kecewa banget. Bukan bermaksud sok romantis. Hanya saja ketika lagu puisi "Di Restoran" dilantunkan, saya ingat kamu sering mend...