Skip to main content

Posts

PLEDOI JARAK

Kiriman WA mu, 2018 Bulan murung di atas stasiun. Redup. Murung. Seperti kurang cahaya. 1000 kilo meter kita berada pada ruang yang dipenuhi doa masing-masing. Mula-mula perbedaan batas ruang menderu gelisah. Semacam kekhawatiran yang kanak-kanak barangkali. Aku dengan keterasingan yang riuh. Bangunan-bangunan di kota malam ini tak bisa jadi penghiburan. Apapun dan dimanapun kau berada, aku harus yakin Tuhan senantiasa menjaga. Disini. Bulan terlihat semakin kehilangan warna. Letih beradu pada waktu semu. Hari-hari berjalan penuh kemacetan tanpa ramai lalu lalang kendaraan. Aku harus menegaskan pada suara-suara di kepalaku: ini hanya sementara. Terdengar lagu dari penjual kaset --yang sebentar lagi mungkin akan diganti. "Selamat malam duhai kekasihku, sebutlah namaku menjelang tidurmu" Adam dan Hawa lah batinku yang memulai semua ini. Sejarah jarak dalam kehidupan manusia. Saling menjaga keyakinan untuk bertemu lagi. Melawan kalah. Sebab hidup menugaskan mereka...

DARI HARI KE HARI*

Foto pribadi. Di sekitar stasiun, 2017 Saya ke Banyuwangi, untuk kedua kalinya. Kota ini jauh sekali. Sedikit lagi sudah sampai bali. Hujan juga sering turun. Namun wangi tanahnya sama saja dengan kota-kota lainnya. Saya berangkat bersamaan dengan banjir dan longsor yang terjadi di pacitan dan jogja. Saya sedih tentu saja. Beberapa kawan di jogja saya hubungi untuk menanyakan kabar dan kemungkinan merespon. Sebagaimana bencana yang sering terjadi, semangat kemanusiaan menjadi sangat tinggi. Banyak sekali organisasi, komunitas, dan lembaga kemanusiaan yang mendedikasikan segala usaha demi meringankan dampak dari akibat pergerakan alam yang membabi-buta. Bencana kemudian membuat orang bersatu. Tidak terpecah belah seperti pilpres dan pilkada. Tidak ada orang yang berpendapat "Ini banjir Jokowi" dan itu "longsor prabowo", sehingga tidak kita jumpai tidak ada orang yang enggan mengulurkan tangan. Mungkin hanya celetukan "Ini kan momen mereka untuk cari ...

PERCAKAPAN KELUARGA

Foto pribadi. Bercengkrama, 2017 1. Istri saya terus mendukung saya, mas Itu yang membuat saya Terus bertahan Sampai hari ini 2. Malam lewat seperti biasa Di kota ini Kopi telah sekian kali diteguk Tembakau dilinting Rokok bungkusan sudah hampir habis Mengisi sela antara percakapan dan nafas sejenak Diantara orang-orang yang berbicara 3. Anaknya dua, laki-laki semua Yang perempuan meninggal sesaat setelah dilahirkan Anaknya yang laki-laki ketiga lahir sehari sebelum bapaknya berangkat mogok kerja Istrinya tidak mengenal undang-undang buruh dan teori demonstrasi Mungkin belum, Tapi kesabaran dan keyakinannya melampaui anggapan orang pada umumnya 4. Saya boleh dibilang yang paling tua di tempat kerja Lelaki disamping bapak tadi ikut bersuara Tapi saya tidak bisa diam melihat ketidakadilan ini Istrinya disamping pintu tersenyum Barangkali keyakinan lebih diperlukan daripada pertanyaan-pertanyaan yang membuat suaminya tidak bisa tidur Bermalam-malam 5. ...

MENULIS

Foto pribadi. Bukuku, 2017 Baginya adalah jalan suci. Ia sangat meyakini itu. Sampai ia menyadari satu hal. Tulisannya tak kunjung jadi, padahal segala niat dan puja untuk Tuhan sudah dilakukannya. Ia  pun akhirnya menyerah. Ia harus menemui seseorang. Orang yang mungkin bisa membantu masalahnya. Hari itu kota sudah cukup gelap. Ia melangkahkan kaki memasuki pekarangan sebuah rumah. Seseorang yang ingin ditemuinya sedang duduk di beranda. Tersenyum. "Mengapa menulis rasanya susah sekali ya, Kyai?" "Mungkin anda harus menipu setan?" "Maksudnya?" "Jadi kalau saya nulis itu dari awal saya tidak niatkan tulisan saya untuk Allah, untuk agama, untuk kebaikan, dan lain-lain. Justru saya malah niatkan tulisan itu untuk sombong, untuk bisa kaya, dan terkenal. Kalau saya dari awal meniatkannya untuk ibadah, setan akan bersemangat sekali menggoda agar tulisannya tidak jadi-jadi. Lha kalau saya meniatkan dari awal untuk urusan dunia, setan juga aka...

AKHIRNYA, THE SIGIT

Foto kamera hp. Riuh, 2017 Setidaknya itu yang saya rasakan. Iya. Setelah sekian lama gagal menyaksikan konser salah satu band indie tanah air yang sekali lagi menegaskan bahwa rock dan garangnya sebuah lagu adalah sesuatu yang harus selalu ada. Saya, Amba, Jarpo, dan Maiko berangkat malam itu (9/9). Stadiun Mandala Krida Yogyakarta yang mestinya bisa ditempuh kurang dari 10 menit dari kontrakan tiba-tiba menjadi panjang, jauh, dan tentu saja: macet parah. Barangkali memang benar, tak ada belas kasihan untuk malam minggu di kota ini. Ruas jalannya penuh sesak --seperti mau meledak. Sesampai di tempar parkir, suara Rekti sudah terdengar samar. Saya dan amba langsung masuk kedalam. Jarpo dan Maiko sudah menunggu disana. Panggung sudah dipadati penonton. Meskipun boleh dibilang tidak terlalu ramai. Terlihat beberapa baliho rokok gudang garam signature. Acara malam itu bertajuk Music After Hours. Band pengisinya adalah The Sigit dan The Cangcuters. Penggila Rock n Roll sudah ba...

DI ATAS KAPAL, DI MATA SEORANG PEMULA

Kamera hp. Sang pemula, 2017 Akhirnya terwujud juga. Rambut berkibar diatas kapal. Dihempas angin laut. Rasanya seperti: merdeka. Saya berdiri. Lama sekali. Biru laut dan ombak terus berkejaran. Sesekali camar --yang seperti di lukisan itu-- menukik tajam memburu ikan-ikan. Dan di langit: awan bergerombol membuat bayangan pada bukit-bukit. Detik jam seakan tepat waktu. Matahari baru saja terbit. Cahaya kuning jingga berkilauan di ufuk timur. Rasanya hangat. Dan di depan mata, buih dan angin masih saja bertebaran kesana-kemari membuktikan semesta gagah di bumi ini: Cakrawala. Riuh terdengar suara isyarat kapal. kumandangnya memecah pagi. Orang-orang dengan berbagai perasaan memenuhi tempat duduk dan berdiri di pinggiran. Saya tetap berdiri. Mencoba menangkap keseluruhan pengalaman sebagai seorang pemula. Saya melihat sejauh yang memiliki batas. Pun memandang seluruh ruang di tempat yang copernicus sebut berbentuk bulat ini. Saya menikmati imajinasi dan kenyataan di kepala. ...

SEBUAH KISAH KECIL TENTANG OBROLAN DAN KOPI DI PASAR GENTENG, BANYUWANGI

Warung Mbah Kapi Warung kopi legendaris ini berdiri sejak tahun 1972. Pendirinya bernama Mbah Kapi. Letaknya berada di lantai dua pasar tradisional kecamatan Genteng. Biasa saja. Hanya memang suasananya lumayan ramai. Ada dua warung yang ternyata keduanya masih keluarga. Warung makan dan jajanan. Lalu, warung kopi. Iya, hanya kopi. Bukan macam-macam pilihan jenis kopi. Saya menduga itu adalah kopi robusta bubuk yang digiling sendiri. Semua meja disana memesan itu: kopi dengan cangkir kecil putih porselin dengan tutupnya yang khas. Tak lupa juga disediakan sendok kecil. Untuk kopi bisa diaduk lagi. "Biar lebih mantap" Ucap seorang bapak paruh baya didepan saya. Saya dipesankan kopi dengan cangkir cukup besar oleh Mas Farid. Kawannya bilang kalau gelasnya seperti itu untuk orang baru, biar besok datang lagi. Saya mengiyakan saja. Dan kopinya memang enak. Agak manis dan pahit dengan rasa cukup halus. Khas kopi-kopi di jawa timur. Saya menikmatinya sambil tiba-tiba...