Skip to main content

Posts

MENUJU 4 TAHUN RING WOLOE, APAKAH SEDJARAH AKAN MELAJOE?

Instagram.com/ringwoloe 1. Bisa iya, bisa tidak. Yang pasti, sejak nama band itu dipanggil. penonton yang sudah crowded sejak band sebelumnya semakin mendapatkan pamungkasnya pertunjukan. Dan seperti bisa ditebak: tepuk tangan langsung bergemuruh. Halaman salah satu kampus malam itu cukup basah setelah hujan. Hawa sejuknya menguar. Penonton yang kebanyakan dari organisaai mahasiswa itu pun serasa mendapatkan suasana terbaik untuk larut dalam irama dan lagu-lagu dari pengisi acara utamanya. Lima lagu yang sudah disiapkan dari latihan dan telah melewati beberapa panggung itu disuguhkan dengan epik dan total. Semua terlihat menikmati permainan musiknya. Bisa dilihat, bahwa jam terbangnya memang sudah tinggi. Dandanan mereka juga nampak santai. Tak ada aksesoris mencolok. Tak ada gaya pakaian yang biasanya menjadi idenditas jenis musik yang mereka bawakan. Saya percaya, bahwa band ini memang fokus pada penampilan musik dan semangat pesan dalam liriknya. Bukan kulit semata. ...

SEBUAH BAND BERNAMA DIANDRAS TELAH BERHASIL MENYIHIR HUTAN PINUS MALAM ITU

Oleh : Mh maulana Diandras. Photo by abu bakar justitia mukti Seketika suasana sunyi. Instrumen irama berangsur masuk. Pelan. Synthizer mulai ambil bagian. Lalu gitar, bass, rhytem, drum. Vokal mengisi suara-suara lepas-tertahan. Tidak ada lirik. Semua tiba-tiba menjadi riuh dan megah. Prolog lagu pembuka yang garang. Penonton masih membisu. Pinus-pinus membeku di udara. Lagu itu berjudul gusar --semacam sihir awal yang dramatis. Selepas maghrib. Malam itu (2/12) sebuah kompleks panggung sunyi di hutan Mangunan disulap anak-anak ekonomi kampus UAD menjadi pertunjukan musik yang semarak. Acara rutin tahunan jurusan dijauhkan dari pusat kota. Bukti bahwa musik masih penting, ratusan orang berbondong datang kesana. Dan sebuah band bernama diandras diundang hadir. Ia tak sendiri. Ada illona and the soul project sebelumnya. Juga Eka gustiwana x prince husein setelahnya. Acara dikemas cukup epik. Lampu-lampu penuh warna bertebaran di salah satu bagian hutan itu. Tiketnya berkisar ...

SELAMAT WISUDA, PARTNER

Sumber: gruo WA forum alumni MAN 2013 Saya membayangkan, hari itu ia sibuk sekali. Menata pakaian, menyiapkan atribut yang digunaan, juga merespon sekian pesan masuk dari gawai sebelum baterainya habis. Namun, sepenggal ingatan kecil tiba-tiba muncul, "Rasanya belum lama masa seragam putih abu-abu lewat, sekarang sudah selesai saja masa kuliahnya." Tepat hari itu. Salah satu orang baik di bumi ini, Puput maulidah fatmala:  Wisuda. Jauh hari sebelumnya, Amba: pacar saya, memutuskan mengajak saya merencanakan hari untuk bisa datang pada ritus wisuda orang baik di bumi tersebut. Tapi, waktu menyikapi lain. Hari yang kita rencanakan untuk berangkat ke Malang bertabrakan dengan agenda lain yang tak bisa ditinggalkan. Seperti nasib umum lain lain yang klise, maaf akhirnya harus kami sampaikan. Puput, orang baik di bumi, partner saya di masa sekolah tersebut telah wisuda mendahului saya dan Amba. Padahal boleh dibilang, masuk kuliahnya terlambat. Ia memang anak yang raj...

BAKSO RAHAYU

Bakso rahayu, dokumen pribadi, 2018 Terlihat sedikit banyak berubah, begitulah pemandangan awalnya. Gerobak dan beberapa pasang meja kursinya memang masih sama, namun kini ada penambahan meja dan kursi yang menjorok ke dalam. Nampak bahwa usaha bakso ini selain memang bertahan, adalah : berkembang. Pesanan kami datang. Saya melihat ada yang berbeda dari sekian tahun sebelumnya. Yaitu adanya satu bakso agak besar yang disandingkan dengan dua bakso kecil. Padahal dulu. Iya, sejak dulu sekali, menunya adalah tiga bakso kecil yang entah mengapa, selalu saja seperti itu. Padahal pedagang bakso di banyak tempat sudah berinovasi dengan campuran mie ayam, bihun yang tebal, tahu bakso, dan pangsit bermodel kuncup bunga. Perkenalan saya dengan bakso rahayu sendiri boleh dibilang menyenangkan dan kini berubah menjadi cukup sentimentil. Dulu, dulu sekali, sejak di sekolah dasar, ketika saya sakit demam dan sejenisnya, almarhum mbahbuk (panggilan saya untuk nenek), selalu mengajak saya mam...

PLEDOI JARAK

Kiriman WA mu, 2018 Bulan murung di atas stasiun. Redup. Murung. Seperti kurang cahaya. 1000 kilo meter kita berada pada ruang yang dipenuhi doa masing-masing. Mula-mula perbedaan batas ruang menderu gelisah. Semacam kekhawatiran yang kanak-kanak barangkali. Aku dengan keterasingan yang riuh. Bangunan-bangunan di kota malam ini tak bisa jadi penghiburan. Apapun dan dimanapun kau berada, aku harus yakin Tuhan senantiasa menjaga. Disini. Bulan terlihat semakin kehilangan warna. Letih beradu pada waktu semu. Hari-hari berjalan penuh kemacetan tanpa ramai lalu lalang kendaraan. Aku harus menegaskan pada suara-suara di kepalaku: ini hanya sementara. Terdengar lagu dari penjual kaset --yang sebentar lagi mungkin akan diganti. "Selamat malam duhai kekasihku, sebutlah namaku menjelang tidurmu" Adam dan Hawa lah batinku yang memulai semua ini. Sejarah jarak dalam kehidupan manusia. Saling menjaga keyakinan untuk bertemu lagi. Melawan kalah. Sebab hidup menugaskan mereka...

DARI HARI KE HARI*

Foto pribadi. Di sekitar stasiun, 2017 Saya ke Banyuwangi, untuk kedua kalinya. Kota ini jauh sekali. Sedikit lagi sudah sampai bali. Hujan juga sering turun. Namun wangi tanahnya sama saja dengan kota-kota lainnya. Saya berangkat bersamaan dengan banjir dan longsor yang terjadi di pacitan dan jogja. Saya sedih tentu saja. Beberapa kawan di jogja saya hubungi untuk menanyakan kabar dan kemungkinan merespon. Sebagaimana bencana yang sering terjadi, semangat kemanusiaan menjadi sangat tinggi. Banyak sekali organisasi, komunitas, dan lembaga kemanusiaan yang mendedikasikan segala usaha demi meringankan dampak dari akibat pergerakan alam yang membabi-buta. Bencana kemudian membuat orang bersatu. Tidak terpecah belah seperti pilpres dan pilkada. Tidak ada orang yang berpendapat "Ini banjir Jokowi" dan itu "longsor prabowo", sehingga tidak kita jumpai tidak ada orang yang enggan mengulurkan tangan. Mungkin hanya celetukan "Ini kan momen mereka untuk cari ...

PERCAKAPAN KELUARGA

Foto pribadi. Bercengkrama, 2017 1. Istri saya terus mendukung saya, mas Itu yang membuat saya Terus bertahan Sampai hari ini 2. Malam lewat seperti biasa Di kota ini Kopi telah sekian kali diteguk Tembakau dilinting Rokok bungkusan sudah hampir habis Mengisi sela antara percakapan dan nafas sejenak Diantara orang-orang yang berbicara 3. Anaknya dua, laki-laki semua Yang perempuan meninggal sesaat setelah dilahirkan Anaknya yang laki-laki ketiga lahir sehari sebelum bapaknya berangkat mogok kerja Istrinya tidak mengenal undang-undang buruh dan teori demonstrasi Mungkin belum, Tapi kesabaran dan keyakinannya melampaui anggapan orang pada umumnya 4. Saya boleh dibilang yang paling tua di tempat kerja Lelaki disamping bapak tadi ikut bersuara Tapi saya tidak bisa diam melihat ketidakadilan ini Istrinya disamping pintu tersenyum Barangkali keyakinan lebih diperlukan daripada pertanyaan-pertanyaan yang membuat suaminya tidak bisa tidur Bermalam-malam 5. ...