Skip to main content

Posts

Rendezvous bersama Ratimaya dalam Dongeng Selepas Hujan

  Video pertunjukkan bisa dilihat  di sini Beberapa pohon dan guguran daunnya hadir pada lanskap itu. Ratimaya berpenampilan sederhana saja. Dan hujan, dalam dongeng itu, menjatuhkan diri bersama-sama. Dan saya, mungkin juga pemirsa semua, basah oleh keindahannya. Selanjutnya adalah ingatan, permenungan, dan kegembiraan. Bagi saya, dongeng selalu unggul. Maksudnya, ia akan selalu menjadi medium ampuh penyampaian pesan yang nyaris tanpa tanding. Dongeng memungkinkan semua kemungkinan. Dongeng melekat seperti lem ghaib yang menempel pada memori kita. "Mendongeng bersama Ratimaya." Tajuk awalan itu yang sering Ratimaya gunakan dalam memulai dongengnya. Dan sejak kalimat itu juga, ia seketika menjadi bukan bagian dari dunia ini. Sukmanya hadir menjelma pendongeng ulung yang sudah seperti melewati ribuan musim pada dunia, sekaligus ia bawa dunia yang bermacam-macam itu, pada kita. Beberapa kali ia hadirkan gunung, sungai, dan lautan yang membentang pada ingatan terdalam ki...

Kau, Cahaya

Di hadapan pintu kebahagiaan. Kesedihan menyeruak, membawa pedih, menggigilkan tubuh waktu sebelum keberangkatan. Segala yang bernyawa, berujung tiada. Pada keheningan itu, sebelum maut. Nama umat yang kau sebut Seorang penyair melagukannya. Sebatang pohon kurma menangis, tatkala kau pergi. Air matanya luruh melebur embun shubuh. Kesejukan pagi itu, angin yang berhembus di sekitarnya, dan tangis yang belum berhenti, seperti pertanda perasaan kehilangan, yang akan selamanya. Tapi mengapa nama umat yang kau sebut, bukan sorga, juga bukan Tuhan yang menciptakan semuanya, saat kematian itu tiba?  Kau manusia. Mengembala. Berniaga. Bersedih dan bercanda. Dan di hatimu, terbuat dari apa relung sanubari itu, begitu hidup, begitu luasnya. Begitu jernih, menarik semuanya.  Kau yang penuh cinta.  Cahayamu terbit dari kegelapan suatu masa. Pendarnya membuat orang-orang menghampirimu. Bahkan di hari lahirmu, orang yang kelak sangat membencimu, pernah begitu bahagia. Ia ha...

Tentang Ayam Jalang

Masakan yang baik, membahagiakan. Masakan yang hebat, membawamu ke dunia yang entah --dengan caranya masing-masing.  Irwan, atau panggilan akrabnya John, melakukannya dengan baik, juga hebat. Ia mengolah berbagai perasaan serta kemampuannya di dapur nyaris tanpa tanding. Bertemakan ayam, ia meleburkan kampung halaman, ambisi, dan kecintaannya pada dunia kuliner seperti pemahat di hadapan bongkahan batu terbaik yang ia miliki. Penuh gelora. Berdaya visi. Penuh luapan gairah.  Ayam Jalang, begitu ia menamakannya. Terkadang ia menyebutnya dengan Ayam Jalan666 sebagai gimmick dari huruf 'G' dan angka 666 yang melekat pada dirinya sebagai seorang metalhead sejak dalam pikiran. Secara singkat, Masakan Ayam Jalang olahan John itu  berpenampilan seperti rica-rica. Tetapi pengalaman menahunnya di dapur telah membuatnya lebih eksploratif, seperti melampaui dari sekadar rica-rica biasa.  Di cuaca terik itu, Saya membayangkan John memasang celemek hitamnya. Rambut go...

Melihat Hujan

Seorang gadis kesepian, dengan buku yang sudah bosan dibacanya, melihat hujan dari pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Gadis itu duduk di sofa usang yang masih nyaman digunakannya untuk merebahkan diri dan bermalas-malasan. Posisi sofanya memungkinkan seluruh tubuh untuk merasai lembut kapas-kapas di balik lapisan kainnya.  "Seandainya saja aku jadi hujan, tak perlu mendapat omelan ibu, bisa jatuh dengan bebas, ramai, dan penuh kegembiraan." Baru saja gadis itu membatin, suara dari dapur yang cukup keras, menyadarkannya.  "Sri, ayo bantu ibu masak, jangan malas-malasan, masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai ini." "Iya, Buu." Gadis itu membatin sembari menekankan kata pekerjaan rumah --yang kembali mengingatkannya betapa masih menumpuk soal-soal matematika dan bahasa inggris yang diberikan gurunya sebagai pekerjaan rumah.  Sementara di luar rumah, hujan yang sedang turun dengan cukup derasnya, berbicara juga.  Hujan yang setetes, deng...

Merindukan Hutan

Tak ada lagi yang lebih kurindukan daripada itu. Merasai hawa dingin yang memeluk. Aroma pohon-pohon basah. Serta wangi tanahnya yang tak pernah berubah.  Hutan, dalam pengertian yang telah kubatasi, ia selalu berarti terdiri setidaknya pinus-pinus yang rimbun. Jalan setapak, daun-daun gugur yang membentuk polanya sendiri di bawah, dan tentu saja, suara kumbang yang berisik dengan selingan kicau burung di antara rapat nadanya.  Hutan, berada di gunung dan, lereng atau perbukitan yang menawan. Hutan menunjukkan misterinya dalam benak yang mampu terbayangkan. Seperti peri-peri, kehidupan yang lain, atau sejenisnya. Hutan begitu hidup dalam ingatan dan kenyataannya, yang akan kudatangi, entah kapan.  Saat itu, usiaku masih duapuluhan awal. Hutan sudah seperti tempat wajib yang pasti terlewati dalam pendakian. Aku tidak suka hutan dengan pepohonan yang terlalu rapat dan gelap. Aku selalu menyukai jika setidaknya masih ada celah, masih ada sedikit hamparan, untuk m...

Sebelas Romawi Pembenaran

/I/. Tersebab darah, tersebab kebencian, juga cinta, kita lupa, kita biarkan api melahap habis rumah terakhir di Dermaga.  /II/.  Kita terdiam. Kita saling membenci dan mendendam. Hari sebelum peristiwa kobaran api itu, kita sebarkan kemarahan di antara kita pada kampung-kampung seisi pulau. Kita memang tak berani beradu mata di satu meja, kita adalah pemberani, sekaligus juga pecundang, secara bersamaan.  /III/.  Kita telah merencanakan penyelamatan terbaik. Kita abai pada kerumunan dan mereka yang kelaparan, kita tak peduli pada waktu orang-orang, kecuali memberikan kegembiraan.  /IV/.  Kita menuntut orang-orang mendengar, tapi telinga kita terlalu tuli untuk melakukan sebaliknya. Kita memiliki cahaya terbaik yang tak tertandingi. Kita tak perduli pada keadaan orang-orang, kecuali mendatangkan kebahagiaan.  /V/. Dendam kita begitu membara. Seringkali, kita menambah bara dan minyaknya di persembunyian masing-masing. Kita saling mengamati untuk menca...

Cinderella; Setelah Pesta Dansa dan Hal-hal lainnya

Claude Monet ,  The Woman with a Parasol,  1886 Besok, hari-hari akan berjalan seperti biasa. Dan perlahan, pasti, perubahan terjadi di dalamnya. Dua kelelawar berterbangan dari pohon cemara mengiringi gadis yang berlari itu. Sepatunya ia jinjing sembari beberapa kali kakinya menginjak ranting kering. Perasaannya baru saja begitu bahagia, namun tiba-tiba kini telah berubah menjadi kesedihan tak terkira. Air matanya tak henti menetes. Cinderella membatin, mengapa kesedihan dan kebahagiaan begitu berbatas tipis.  Ia masih mengingat semuanya. Gemerlap lampu itu. Dansa yang rasanya seperti mimpi namun kaki-kakinya sangat terasa menginjak tanah, senyum lelaki itu, dan semuanya. Kini ia berada di bawah pohon yang asing, cahaya rembulan yang bersinar penuh membuat air matanya berangsur jatuh lagi. Pelan. Keindahannya bertubrukan dengan peristiwa yang beberapa menit sebelumnya begitu membahagiakan.  Cinderella akhirnya tiba di rumah. Bukan di negeri dongeng. Tapi...