Skip to main content

Posts

KERETA SORE di stasiun dua ribu kenangan. tiga ribu khayalan kita pun menambahnya "sebentar lagi kereta berangkat" bukan menuju senja karena dia sudah masuk khayalan yang ke-seribu sembilan ratus juga bukan membeku di salju karena itu termasuk oplosan dari kenangan dan khayalan biru hanya melaju seperti biasa melintas kota "kereta berhenti" aku hanya berjanji dalam hati kelak akan menuliskanmu dalam puisi "seperti seharusnya" kutangkap erat gambarmu dengan background sawah yang biasa juga iringan roda melindas rel "aku berhasil mencurinya" kau tak pernah tahu dan jangan pernah tahu karena, kini potretmu di kereta sore yang melaju ke kotamu akan selalu kutulis dalam puisi ingin selalu kubunuh dalam sepi Jogja, 2014
TIGA BUNGKUS PUISI PAGI 1 Aku menunggunya. di perapian hening. juga percintaan yang rimba bagaimana kekasih ? segala rindu sudah menjadi basi untuk diperdengarkan 2 lalu kita memungut kenangan sebelum shubuh 3 kau membungkusnya rapi bersama sepi untuk tak bisa kubuka kembali jogja, 2014
KOMEDI PUTAR KEHIDUPAN* Oleh MH Maulana Selamat datang, kawan Di komedi putar kehidupan. Di dunia yang serba lelucon dan kekonyolan ini Kesadaran lah yang jadi pahlawannya. Namun seperti film-film dan cerita silat. Pahlawan hanya akan keluar ketika kejahatan telah mengambil alih Telah hampir menguasai segalanya. Di pagi yang buta, ketika siluet matahari masih dipuja-puja kaum pecinta. Para petani yang tak punya lahan. Melanjutkan keseharian. Buruh pabrik yang gontai melangkahkan pijak ke tempat kerja. Pekerja tambang mempertaruhkan kehidupannya lagi. Seperti biasa. Kaum intelektual datang ke kampus. Untuk datang. Duduk. Dan pulang kembali. Setiap hari. Setiap masa. Selalu terulang. Dimana kesadaran ? Media kah. Yang setiap hari membentuk pemikiran. Menjadi panutan. Atau barangkali sudah menjadi tuhan. Atau mungkin Pendidikan. Yang sampai hari ini membuat kaum terpelajar untuk terus manut, dan manut pada peraturan Sementara kita masih menanyakan ...
MASIH LUMAYAN ONANI INTELEKTUAL Oleh MH Maulana Yang paling saya takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu” (Umar bin khatab) Sungguh menarik apa yang disampaikan Zulkifar Akbar di kompasiana tentang onani intelektual. Dimana onani intelektual diartikan kondisi kaum terpelajar atau kaum intelek yang menguasai ilmu tertentu tidak diamalkan secara meluas, tetapi hanya dinikmati untuk dirinya sendiri. Sepertinya memang sesuai dengan kabar dunia keilmuan kita hari ini, terutama juga banyak terjadi ditengah modernisasi pendidikan negeri ini, yang bisa dengan mudah kita saksikan, terlebih mendominasi. Kondisi onani intelektual akhirnya terlihat rawan dan juga miris di dunia keilmuan, terlebih mahasiswa. Pasalnya mahasiswa yang (sering) sibuk berdiskusi perihal berbagai macam persoalan ternyata kaget melihat dunia luar kampus atau lapangan kerja nyata. Lain pihak, beberapa dosen dengan kemegahan ilmu dan gelar yang disandangnya tidak bisa melihat lingkungan sekit...
PEMILU DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL Oleh MH Maulana             Pemilu, beberapa orang mengartikan musim dimana bangsa Indonesia segera menyambut perubahan. Selalu identik dengan sesuatu yang diharapkan menjadi kebangkitan dari keterpurukan yang lampau. Berbagai partai politik pun mengusahakan untuk terjadinya hal yang demikian, entah dengan kepentingan yang berbagai macam didalamnya.             Negara kesejahteraan (welfare state) adalah impian setiap warga negara. Mungkin ini juga yang diinginkan filsuf yunani plato dalam negara utopisnya. Juga Apa yang diusung oleh kaum Renaisans dalam kebangkitan zaman baru. Dimana negara menjamin kesejahteraan dari setiap masyarakat tanpa memandang perbedaan ras, suku, agama, dan sebagainya. Juga pemimpin negara yang bisa mengayomi dan memberikan kebijaksanaan terhadap apa yang menjadi kebutuhan warga negara tersebut. ...
GIRINDRA : Dunia Sejarah dalam cinta lama saya yang bersemi kembali  Oleh MH Maulana Saya masih selalu terkenang dengan dhawuh mas siwi kalau sejarah lahir –dan dilegalkan-  tergantung penguasa. Perkataan ini saya dapat sudah lama, kira-kira pas saya masih SMA dan masih sering berkunjung dalam rangka pelarian ke sanggar pena ananda. Kemudian terbilang menarik kalau mas siwi sang (saya sering mempermasalahkan nama ini, kenapa tidak sang siwi saja) membuktikan ijtihad tentang kesejarahan dalam sebuah buku GIRINDRA, yang menurut penuturannya sebagai babon dari (yang akan segera terbit) novel KERTABUMI : sunyi menari diatas sepi.             buku GIRINDRA begitu menggoda untuk dibaca -bahkan sebelum terbit- karena mas siwi dan bunda selalu memprovokasi tentang masa lalu saya yang kebetulan menyenangi novel sejarah dan sering terlibat diskusi kecil-kecilan mengenai dunia sastra dan kesejarahan. Hasilnya, saya taha...