Skip to main content

Posts

Betapa Jarak Begitu Singkat dan Pejal Kenangan Begitu Berserak

  Noon - Rest from Work (after Millet) by Vincent Van Gogh 1. Kota-kota meremaja dalam ingatanku.  Mulanya hujan menebar baris. Tepat ketika kita memasuki tapal batas lelap. Perbincangan dan perjamuan yang belum habis namun waktu memaksa bergegas. Pada waktu itu pula, ditarik semua cerita yang pernah terperangkap dalam ruangnya. Di masa silam, pada basah air yang masih sama. Pada jendela dan toko-toko yang seperti ditakdirkan tidak berubah selamanya. Kita menghitungnya perlahan. Cukup berhati-hati. Kita begitu khawatir kehilangan sekelebat detailnya. Cinta, tiba-tiba menyeruak dalam perasaan ganjil dan menghangatkan. Perasaan itu, seringkali datang. Tak peduli lipatan usia menabalkannya. Kita, begitu sentimentil di hadapan sejarah, yang kita tulis sendiri.  2. Drama di setiap kota yang memainkan lakon kita kembali.  Sejak dari berbagai peristiwa terjadi. Serupa buku, kita menanggalkan beberapa halaman yang belum sempat kita tuliskan cuaca, suasana, dan potret terbaik...

Galeri Kecil Bersama #1 : Tentang Petani

Foto Pribadi, Sawah di Gunung Kidul Ide awalnya adalah keinginan berkarya bersama. Dibuat dari tempat yang berbeda-beda dalam merespon ide atau tema awal yang disepakati. Sebagai awalan, cerita sederhana tentang petani menjadi babak pembuka. Singkatnya, Mas Yudi malam itu (22/3) mengabarkan via chat. Ia baru saja bertemu beberapa petani muda dari Magelang yang memiliki energi dan semangat yang menarik. Ia seketika membuat rekaman sederhana petikan gitar yang berdurasi sekitar Dua menit dan dikirim ke saya. Ia menginginkan agar saya membuat puisi dan membacakannya untuk mengisi nada yang telah dibuatnya tersebut. Malam itu juga saya membuat  semacam puisinya. Saya tulis dan saya rekam menggunakan Hp untuk nanti digabungkan dengan aplikasi Wavepad Audio. Judul 'menuju merdeka' saya pilih untuk memaknai cerita singkat dan nada petikan gitar yang telah dikirim. Tanpa maksud berlebihan, gagasan puisinya ditujukan untuk menceritakan ulang cerita itu. Dan barangkali juga, cer...

Luapan Deru dan Peluh Pertama di Gigs Rolasan #1

Taken by Zakir Energinya begitu besar. Kaki-kaki terus berjingkrakan. Tangan bergerak kesana-kemari. Musik terus digeber seperti tanpa ampun. Keringat mengucur deras dalam ruangan yang minimalis. Selebihnya, kegembiraan bertubi-tubi menempel dalam peluh di badan. Gigs Rolasan menjadi adegan perdana malam itu (15/2). Penyelenggaraannya cukup nekat. Enam band akan bermain sekaligus. Berbeda genre dalam peristiwa bermusik yang satu. Studio latihan band di sekitaran stasiun lempuyangan Yogyakarta menjadi pilihan. Namanya AL Studio. AL sendiri menyediakan fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari studio latihan, recording, dan menjual alat-alat musik. Tempatnya cukup tersembunyi. Beberapa orang yang datang seperti digariskan sama: nyasar. Belajar dari pengalaman acara sebelumnya yang diinisiasi band-band metal di studio yang sama, Gigs akhir bulan, acara Gigs rolasan berharap bisa serupa dalam mendapatkan nasib baik. Diantaranya yaitu terjadi pertunjukan musik yang intim, suasana ...

SELAMAT 24 YAA, PACAR

SAYA. Mungkin kelewat kanak-kanak. Tapi biarin. Selamat terulang tanggal lahir ya, Pacar durhaka --dan tercinta, tentu saja. Singkatnya, video di atas dimulai dari tulisan ucapan HBD tiga tahun lalu buat kamu di blog. Iya, dengan gaya-gaya-an menggunakan judul bahasa belanda. Negeri impian para kembara, terlebih kita. Lalu, terjadilah kesempatan dan perjalanan baik itu. Lima hari merasai negeri pelukis Van Gogh dan band metal Pestilence berjaya. Pun juga satu hari yang sahdu, di Kanal-kanal amsterdam yang membius --dengan trik ala pelajar kasmaran mengucap ulang tahun untuk pacarnya. Lengkap dengan kamera seadanya, lelagu klasik, suara fals, dan bahasa inggris yang belepotan tak terkira. Singkatnya seperti itu. Pokoknya, kamu terhitung hari ini semakin bertambah tua. Eh, maksudnya dewasa. Semoga semakin sip-sip semuanya. Selebihnya toh kemudian hanya rayu bualan dan basa-basi. ... Di Belanda, waktu itu Kangen memang selalu mengenal tanah air Nasionalisme sempit yang...

MENUJU 4 TAHUN RING WOLOE, APAKAH SEDJARAH AKAN MELAJOE?

Instagram.com/ringwoloe 1. Bisa iya, bisa tidak. Yang pasti, sejak nama band itu dipanggil. penonton yang sudah crowded sejak band sebelumnya semakin mendapatkan pamungkasnya pertunjukan. Dan seperti bisa ditebak: tepuk tangan langsung bergemuruh. Halaman salah satu kampus malam itu cukup basah setelah hujan. Hawa sejuknya menguar. Penonton yang kebanyakan dari organisaai mahasiswa itu pun serasa mendapatkan suasana terbaik untuk larut dalam irama dan lagu-lagu dari pengisi acara utamanya. Lima lagu yang sudah disiapkan dari latihan dan telah melewati beberapa panggung itu disuguhkan dengan epik dan total. Semua terlihat menikmati permainan musiknya. Bisa dilihat, bahwa jam terbangnya memang sudah tinggi. Dandanan mereka juga nampak santai. Tak ada aksesoris mencolok. Tak ada gaya pakaian yang biasanya menjadi idenditas jenis musik yang mereka bawakan. Saya percaya, bahwa band ini memang fokus pada penampilan musik dan semangat pesan dalam liriknya. Bukan kulit semata. ...

SEBUAH BAND BERNAMA DIANDRAS TELAH BERHASIL MENYIHIR HUTAN PINUS MALAM ITU

Oleh : Mh maulana Diandras. Photo by abu bakar justitia mukti Seketika suasana sunyi. Instrumen irama berangsur masuk. Pelan. Synthizer mulai ambil bagian. Lalu gitar, bass, rhytem, drum. Vokal mengisi suara-suara lepas-tertahan. Tidak ada lirik. Semua tiba-tiba menjadi riuh dan megah. Prolog lagu pembuka yang garang. Penonton masih membisu. Pinus-pinus membeku di udara. Lagu itu berjudul gusar --semacam sihir awal yang dramatis. Selepas maghrib. Malam itu (2/12) sebuah kompleks panggung sunyi di hutan Mangunan disulap anak-anak ekonomi kampus UAD menjadi pertunjukan musik yang semarak. Acara rutin tahunan jurusan dijauhkan dari pusat kota. Bukti bahwa musik masih penting, ratusan orang berbondong datang kesana. Dan sebuah band bernama diandras diundang hadir. Ia tak sendiri. Ada illona and the soul project sebelumnya. Juga Eka gustiwana x prince husein setelahnya. Acara dikemas cukup epik. Lampu-lampu penuh warna bertebaran di salah satu bagian hutan itu. Tiketnya berkisar ...

SELAMAT WISUDA, PARTNER

Sumber: gruo WA forum alumni MAN 2013 Saya membayangkan, hari itu ia sibuk sekali. Menata pakaian, menyiapkan atribut yang digunaan, juga merespon sekian pesan masuk dari gawai sebelum baterainya habis. Namun, sepenggal ingatan kecil tiba-tiba muncul, "Rasanya belum lama masa seragam putih abu-abu lewat, sekarang sudah selesai saja masa kuliahnya." Tepat hari itu. Salah satu orang baik di bumi ini, Puput maulidah fatmala:  Wisuda. Jauh hari sebelumnya, Amba: pacar saya, memutuskan mengajak saya merencanakan hari untuk bisa datang pada ritus wisuda orang baik di bumi tersebut. Tapi, waktu menyikapi lain. Hari yang kita rencanakan untuk berangkat ke Malang bertabrakan dengan agenda lain yang tak bisa ditinggalkan. Seperti nasib umum lain lain yang klise, maaf akhirnya harus kami sampaikan. Puput, orang baik di bumi, partner saya di masa sekolah tersebut telah wisuda mendahului saya dan Amba. Padahal boleh dibilang, masuk kuliahnya terlambat. Ia memang anak yang raj...