Skip to main content

JALANAN


; menuju Banjarnegara

Di jalanan,
kita menghitung ingatan
tentang kemanusiaan
sebelum lupa dan luka
menghapus memar setiap peristiwa
sebab telah begitu banyak
yang kita tinggalkan
tentang cerita yang belum usai
dan tragedi kepedihan
yang tak mau lagi kita ulang
setiap penggal episodenya

tapi Jalanan,
terlalu sentimentil, Sayang.
ditambah hujan --yang selalu kita anggap airmata dewa-dewa itu--
terlalu jujur
untuk menutupi dusta
bahwa kita
ketakutan
menghadapi segala
yang ditawarkan kehidupan
seperti sakit hati, rasa bosan, dan kesepian
juga bencana, bahkan kematian
yang datang tiba-tiba

maka, gelap malam kita --menjadi doa paling sepi
yang menjemput pagi -- yang menjadi tempat kita bertamu pada nyata. Lalu bersama senja --kita berlutut pada kata semoga

Allah ma'akum



(Banjarnegara, menuju lokasi pengungsian, Desember 2014)

Comments

Popular posts from this blog

PETILASAN ANGLING DHARMA DAN NYAI AMBARWATI Oleh MH Maulana             Desa Bendo, kecamatan Kapas, Bojonegoro menyimpan sebuah tempat unik, mistik, damai, sekaligus kaya sejarah. Tepatnya di sisi waduk Bendo. disana terdapat sebuah tempat Pamoksaan dan petilasan prabu angling dharma da nyai ambarwati. Sebuah tempat menyerupai labirin dengan hiasan batu-batu dan atap dari ilalang kering membuat suasana petilasan terasa rindang dan tenang. Selain itu disisi petilasan ini terdapat waduk bendo yang merupakan tempat pemancingan gratis dengan pemancing yang tak pernah sepi tiap harinya.             Menurut keterangan juru kunci, pak ali. tempat petilasan ini dulunya adalah tempat dimana prabu angling dharma bertemu pertama kali dengan nyai ambarwati dan saling menumbuhkan benih-benih cinta. Selain itu terdapat pula pohon bambu lumayan tinggi yang dipakai sebagai rumah poh...

'Menikah itu Biasa Saja'

/1/. Saya sepertinya akan selalu memikirkan pembuka novel Anna Karenina karangan Leo Tolstoy sampai kapan pun. "Keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama. Keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing," tulisnya. Dan saya menikah. Mengucap janji di hadapan penghulu, orang tua, saksi, hadirin yang datang, dan tentu saja pacar saya yang menjadi istri saya: Yeni Mutiara. Mungkin aneh. Tapi saya berharap ini biasa saja. Seperti menggubah lagu Efek Rumah Kaca yang dimuat dalam album debut eponimnnya. Ketika rindu, menggebu gebu, kita menunggu Jatuh cinta itu biasa saja. /2/. Saya masih mengingatnya. Tertanggal 4 Maret. Pagi tiba ketika kapal laut mengangkat sauh di selat sunda. Itu kali pertama Abah, Ibuk, Adek, dan Budhe mengalaminya. Kami duduk di ruang terbuka. Mengamati gugusan pulau kecil dengan pepohonan kelapa yang berjejer, seperti lanskap di buku gambar anak-anak. Sesekali kami minum kopi, memakan cemilan, dan meresapi udara se...

JAWABAN SUKAB*

(Ini 'semacam cerpen suka-suka' yang saya buat atas beberapa cerpen mahaguru Seno Gumira Ajidarma yang membuat saya gregetan. Terutama Cerpen Sepotong senja untuk pacarku, epilog: surat, dan Jawaban Alina. Monggo, buat yang selo. Sila membaca ketiga cerpen tersebut di duniasukab.com sebelum membaca 'semacam' cerpen saya. Atau mau langsung dibaca, bahkan tidak dibaca pun sungguh sangat tidak apa-apa. Hayuk. Tetap SemangART berkarya) JAWABAN SUKAB* Oleh: MH Maulana Dan aku membaca suratmu, Alina. Tepat saat kusaksikan tubuhmu lunglai dengan mata nanar memandang senja sambil memegang Indomie terakhir di dunia. Kau pun tahu. Di dunia yang dibatasi oleh nama-nama ini pernah tinggal orang suci. Kau mungkin pernah mendengar ceritanya saat masih sekolah dasar. Atau sebelum kau terjun di pekerjaanmu yang penuh perhitungan --kau yang suka membaca itu-- pernah membeli buku kisah 25 nabi di pasar loakan. Dalam halaman yang entah, diceritakanlah Nabi Yunus(1). Dia diselama...