Skip to main content

Posts

Selamat Ulang Tahun, Istriku

Beberapa puisi ini untukmu.   /1/. Pohon-pohon meranggas di sekujur tubuhnya,  usia dan waktu  berkejaran.  pernah kita memandanginya  di sana-sini  menghitung hari-hari  yang ditinggalkan hujan.  kita terus saja berbicara  menginginkan suatu hari  hanya angin, dingin,  dan luasnya cakrawala.    kau sandarkan kepalamu  di pundakku  tangan kita berpegangan.  Rasanya seperti  menggenggam erat seluruh isi dunia ini.    /2/. Cat yang belum kering  wangi ini akan selalu kuingat  dengan cara terbaik  yang kumiliki.    saat itu, dinding kusam  tubuhnya mengelupas  oleh lupa  dan terabaikan.    kita mengingat suasana  yang kita inginkan  sebelum bulan berganti  dengan penyesalan.    kuas menyapu sekeliling  menghapus kesedihan,  dan dendam  di balik pintu.    perlahan, udara baru  masuk dari ruang tamu  untuk tinggal  dan menetap.    dunia ini bukan ruang tunggu kita memang sengaja diundang  untuk berbahagia.   /3/. Kacamata di atas meja    seringkali aku menemukannya 
Recent posts

Peter dari Sarajevo

Design by Canva Oleh: Mh Maulana Ia memiliki nama yang jarang dijumpai di antara anak-anak seumuran kami. Saya bertemu dengannya pertama kali di masa sekolah menengah. Saya cukup terkesan dengan sosoknya yang berjalan sebelum kami saling berhadapan. Bentuk wajah dan rambut ikal yang cocok, tangannya yang memegangi rokok dengan terampil, serta celana pendek dan kaosnya yang kusam tapi nampak pantas dikenakan. “Peter,” ucapnya sambil kami saling menjabat tangan. Saya lupa kota ia berasal. Namanya cukup sulit. Untuk memudahkannya, saya biasa mengingatnya dengan sebutan Peter dari Sarajevo. Kalau tidak salah nama kotanya mirip dengan itu. Toh kami juga jarang terlibat pembicaraan yang membahas nama rumit wilayah tempat kami dilahirkan masing-masing. Peter awalnya cukup membuat saya terkesan karena dia bisa memainkan alat musik yang aneh-aneh. Pernah sekali waktu Ia membawa instrumen tiup dari kulit kerang, lalu tetabuhan India yang mirip kendi bolong, serta seruling Cina yang lebih cocok u

'Menikah itu Biasa Saja'

/1/. Saya sepertinya akan selalu memikirkan pembuka novel Anna Karenina karangan Leo Tolstoy sampai kapan pun. "Keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama. Keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing," tulisnya. Dan saya menikah. Mengucap janji di hadapan penghulu, orang tua, saksi, hadirin yang datang, dan tentu saja pacar saya yang menjadi istri saya: Yeni Mutiara. Mungkin aneh. Tapi saya berharap ini biasa saja. Seperti menggubah lagu Efek Rumah Kaca yang dimuat dalam album debut eponimnnya. Ketika rindu, menggebu gebu, kita menunggu Jatuh cinta itu biasa saja. /2/. Saya masih mengingatnya. Tertanggal 4 Maret. Pagi tiba ketika kapal laut mengangkat sauh di selat sunda. Itu kali pertama Abah, Ibuk, Adek, dan Budhe mengalaminya. Kami duduk di ruang terbuka. Mengamati gugusan pulau kecil dengan pepohonan kelapa yang berjejer, seperti lanskap di buku gambar anak-anak. Sesekali kami minum kopi, memakan cemilan, dan meresapi udara se

One Ok Rock dan XXXV yang Paripurna

  www.gwigwi.com Musik, dari ruang yang entah itu, mengisi jiwa sampai penuh, dan entah juga, terus begitu. Terus sanggup diisinya lagi. Dan lagi. Saya pertama menyaksikannya saat Rika dan Krismon melagukannya bersama. Judulnya "Wherever you are". Saya ingat pernah mendengar sebelum itu, entah di mana, seperti lagu-lagu yang lain: kita baru mengerti setelah beberapa waktu kemudian. Mereka melagukannya dengan sederhana dan indah: di kursi kayu warung kopi yang telah dini hari dengan gelas-gelas yang kosong, lengkap dengan lirik jepangnya yang dibagi dengan suara satu-dua yang merdu didengar. Besoknya, saya mencari lagu itu di spotify. Tidak hanya pada satu lagu itu, yang lainnya juga. One Ok Rock menempatkan sound lagu-lagunya dengan clean dan easy listening . Setahu saya, jenis musik semacam ini bisa membawa lagunya menjadi cukup membosankan, tapi band asal Jepang ini tidak berhenti di situ, ia membawa yang banyak musisi inginkan: karakter. Tak butuh waktu lama, saya be

Rendezvous bersama Ratimaya dalam Dongeng Selepas Hujan

  Video pertunjukkan bisa dilihat  di sini Beberapa pohon dan guguran daunnya hadir pada lanskap itu. Ratimaya berpenampilan sederhana saja. Dan hujan, dalam dongeng itu, menjatuhkan diri bersama-sama. Dan saya, mungkin juga pemirsa semua, basah oleh keindahannya. Selanjutnya adalah ingatan, permenungan, dan kegembiraan. Bagi saya, dongeng selalu unggul. Maksudnya, ia akan selalu menjadi medium ampuh penyampaian pesan yang nyaris tanpa tanding. Dongeng memungkinkan semua kemungkinan. Dongeng melekat seperti lem ghaib yang menempel pada memori kita. "Mendongeng bersama Ratimaya." Tajuk awalan itu yang sering Ratimaya gunakan dalam memulai dongengnya. Dan sejak kalimat itu juga, ia seketika menjadi bukan bagian dari dunia ini. Sukmanya hadir menjelma pendongeng ulung yang sudah seperti melewati ribuan musim pada dunia, sekaligus ia bawa dunia yang bermacam-macam itu, pada kita. Beberapa kali ia hadirkan gunung, sungai, dan lautan yang membentang pada ingatan terdalam ki

Kau, Cahaya

Di hadapan pintu kebahagiaan. Kesedihan menyeruak, membawa pedih, menggigilkan tubuh waktu sebelum keberangkatan. Segala yang bernyawa, berujung tiada. Pada keheningan itu, sebelum maut. Nama umat yang kau sebut Seorang penyair melagukannya. Sebatang pohon kurma menangis, tatkala kau pergi. Air matanya luruh melebur embun shubuh. Kesejukan pagi itu, angin yang berhembus di sekitarnya, dan tangis yang belum berhenti, seperti pertanda perasaan kehilangan, yang akan selamanya. Tapi mengapa nama umat yang kau sebut, bukan sorga, juga bukan Tuhan yang menciptakan semuanya, saat kematian itu tiba?  Kau manusia. Mengembala. Berniaga. Bersedih dan bercanda. Dan di hatimu, terbuat dari apa relung sanubari itu, begitu hidup, begitu luasnya. Begitu jernih, menarik semuanya.  Kau yang penuh cinta.  Cahayamu terbit dari kegelapan suatu masa. Pendarnya membuat orang-orang menghampirimu. Bahkan di hari lahirmu, orang yang kelak sangat membencimu, pernah begitu bahagia. Ia haru, ia merdeka

Tentang Ayam Jalang

Masakan yang baik, membahagiakan. Masakan yang hebat, membawamu ke dunia yang entah --dengan caranya masing-masing.  Irwan, atau panggilan akrabnya John, melakukannya dengan baik, juga hebat. Ia mengolah berbagai perasaan serta kemampuannya di dapur nyaris tanpa tanding. Bertemakan ayam, ia meleburkan kampung halaman, ambisi, dan kecintaannya pada dunia kuliner seperti pemahat di hadapan bongkahan batu terbaik yang ia miliki. Penuh gelora. Berdaya visi. Penuh luapan gairah.  Ayam Jalang, begitu ia menamakannya. Terkadang ia menyebutnya dengan Ayam Jalan666 sebagai gimmick dari huruf 'G' dan angka 666 yang melekat pada dirinya sebagai seorang metalhead sejak dalam pikiran. Secara singkat, Masakan Ayam Jalang olahan John itu  berpenampilan seperti rica-rica. Tetapi pengalaman menahunnya di dapur telah membuatnya lebih eksploratif, seperti melampaui dari sekadar rica-rica biasa.  Di cuaca terik itu, Saya membayangkan John memasang celemek hitamnya. Rambut gondrongnya d